Posted by: admin | October 5, 2010

Breda dan PETA

Legiun Inheemsen atau Legiun Pribumi secara resmi baru diaktivasi pada
saat era Perang Atjeh. Java Oorlog atau Perang Djawa itu sendiri
adalah perang yang paling besar melibatkan orang Eropa (diluar
belanda) yang masuk kedalam dinas tentara Belanda sebagai tentara
bayaran. Perlu diingat sejak era Pangeran Oranje, di abad 16 Belanda
paling menyukai merekrut tentara bayaran Eropa. Rene Descartes seorang
ahli filsafat besar Eropa yang terkenal dengan adagium “cogito ergo
sum” …I think therefore I am,  pernah masuk ke dalam tentara bayaran
Belanda. Di jaman Perang Diponegoro, Belanda sendiri sedang mengalami
hubungan yang tidak baik dengan Inggris, karena kasus Daendels dan
perang Belanda-Inggris di Djawa (1810-1811)..sehingga Belanda tidak
banyak mendapat bantuan dari Inggris, intel2 Inggris sendiri sempat
banyak main mata, dan dekat dengan keluarga Notokusuman dari grade II
di lingkungan Paku Alaman.Inggris bersiap bila suatu saat Belanda
kalah dari Diponegoro maka Inggris akan menggantikan posisi Belanda
untuk meneruskan perang, sekaligus menggugurkan peran Belanda di
Nusantara dimana Djawa akan dijadikan pusat dan tidak ada alasan
Perancis untuk masuk ke Djawa karena secara sah Belanda sudah
dinyatakan kalah.
Begitu skenarionya.
Memang ada yang disebut Londo Ireng oleh kalangan orang Djawa, namun
jumlahnya tidak signifikan, dan ada atmosfer yang dibilang Bung Uno
bahwa Perang Djawa seakan-akan perang antar suku di Indonesia, perang
yang hanya melibatkan Menado, Timor dan Ambon melawan orang Djawa pro
Diponegoro.
Padahal kalau anda lihat dalam literatur-literatur perang
modern, Perang Djawa ini adalah perang modern yang menggunakan
strategi-strategi militer modern seperti : Open Warfare,  geurilia
warfare, Psy war yang melibatkan intrik keraton dan mulai dikenal
double agent, bahkan triple agent dalam perang inisiasi. Jadi Perang
Djawa bukanlah perang tribal (Tribal War) atau perang suku, tapi
merupakan perang modern pertama di Asia. Jepang sendiri baru mengalami
dan merasakan perang modern saat mulai ada restorasi Meidji, yaitu
saat perang Boshin (perang tahun Naga),Februari 1868  yang diawali
Pertempuran Toba Fushimi, dimana tentara yang dipimpin Choshu dan
Satsuma mengalahkan tentara mantan shogun, dan membuat Kaisar mencopot seluruh kekuasaan yang dimiliki Yoshinobu. Sejumlah anggota keshogunan melarikan diri ke Hokkaido dan mencoba membuat negara baru, Republik Ezo, tapi usaha ini digagalkan pada penyerbuan Hakodate, Hokkaido.
Kekalahan tentara mantan shogun adalah akhir dari Restorasi Meiji;
dimana semua musuh kaisar berhasil dihancurkan. Dalam Perang Boshin
disebutkan bahwa dimulai taktik-taktik perang modern. Generasi
sekarang mungkin melihat gambarannya dalam film The Last Samurai yang
dibintangi Tom Cruise.
Jadi inti dari jawaban saya adalah Pertama, Perang Diponegoro,
bukanlah perang tribal atau perang suku dimana Belanda bermain
dibelakangnya, kedua Perang Diponegoro bukanlah Perang Agama tapi
sudah menjurus perang Nasionalis -perang antar nation- yang memang
pada saat itu kesadaran Nation hanya sebatas Djawa. Namun perlu
diingat Nation Djawa sendiri dalam konteks Keraton Djawa tetaplah
Nation Nusantara, karena itu yang sudah ada sejak Sumpah Sultan Agung
yang ingin menyatukan Mancanegara di lingkungan Nuswantoro dalam
wilayah Mataram sebagai kelanjutan dari Modjopahit. Disinilah yang
menjadi wacana penting antara Diponegoro dengan Pakubuwono VI lewat
kesepakatan rahasia yang dimulai di Alas Purwo dan diakhiri di Alas
Krendowahono dimana kemudian terjadi penggrebekan besar-besaran oleh
pasukan Van Den Bosch.
Sebagai koreksi dari pemahaman Bung Uno yang salah, yang menyatakan
bahwa seakan-akan perang Diponegoro hanyalah perang antar suku di
Indonesia dimana Belanda hanya bermain dibelakang, adalah sebuah
kekeliruan besar dalam memahami sejarah. Karena dalam proses-proses
perang Koloni Belanda sebagai sebuah entitas nation tetaplah yang
bertanggung jawab terhadap penyerbuan, kolonialisasi dan penghancuran-
penghancuran yang diakibatkan terhadap sistem kolonialisasi tersebut.
Jadi keterlibatan pasukan inheemse jangan lantas diartikan
sebagai ‘buah perang antar suku’ tapi lebih pada taktik pemanfaatan
perang secara optimal seperti yang lazim dilakukan oleh banyak
kekuatan perang ketika sedang mengembangkan ekspansi militernya engan
merekrut orang taklukan. dan juga perlu diingat bahwa Legiun Inheemse
bukanlah legiun mayoritas dalam perang-perang di Indonesia, sampai
pada perang terakhir Perang Agresi Militer Kedua Belanda 1948 yang
dipusatkan di Yogyakarta.
Melanjutkan ulasan Pak Wal, tentang Legiun Inheemse, keterlibatan Didi
Kartasasmita dari Akademi Breda sebenarnya sama saja dengan kasus
Julius Tahija dalam bersiap menghadapi Jepang, Didi dan Nasution juga
berteman yang membedakan antara Didi dan AH Nasution adalah bila Didi
tetap melanjutkan perang sementara AH Nasution dengan mengenakan
sarung dia menolak perang dengan Jepang yang dirasakannya bukan perang
negerinya, dan memilih menjadi guru saat Jepang datang, kelak AH
Nasution-Didi Kartasasmita dan TB Simatupang menjadi kwartet paling
berpengaruh terhadap pembentukan Divisi Siliwangi sebagai satu-satunya
divisi dari Djawa yang sangat plural dan tidak terpengaruh alam
pikiran Djawa-Mataraman serta anti pada gerakan laskar-laskar diluar
TNI yang puncaknya adalah permusuhan antara kelompok Siliwangi dengan
TNI Masyarakat bentukan Front Demokrasi Rakyat. Divisi Siliwangi
adalah  pendukung gerakan rasional tentara yang dicetuskan Hatta dan
Sjahrir .
Pada saat menjelang Perang Dunia Kedua, para kaum nasionalis
pergerakan pada akhirnya memilih Belanda sebagai kawan sekutu, namun
Belanda kepala batu dan tidak mau diajak kerjasama seperti halnya
kerjasama antara Amerika-Filipina atau antara Birma-Inggris. Kepala
batu Belanda inilah yang kemudian melahirkan musibah berdirinya PETA
bagi tentara Belanda. Sesungguhnya konflik militer secara keseluruhan
di Indonesia bermula dari konflik antara Bredaisme dengan Petaisme,
dan sejarah memberitahu pada kita, bahwa pada akhirnya kaum PETA-lah
yang memenangkan pertarungan itu secara keseluruhan bahkan
menjungkalkan Bung Karno di tahun 1966. Dimana tokoh PETA adalah
Suharto dan alumni PETA 1945 yang kemudian banyak berkerumun di
lingkungan Diponegoro. Otomatis setelah tahun 1966 kekuatan militer
rasional, terdidik dan intelektual khas Breda tamat sudah…orang-
orang macam AH Nasution, Simatupang atau Kawilarang hanya tinggal
cerita.
Keluhan ini juga diungkapkan dari kelompok militer Non Peta
dan Non Breda dari jalur Tentara Pelajar-Mahasiswa, Jenderal Hario
Ketjik yang kecewa dengan masuknya kelompok tangsi Jepang sebagai
pemegang kekuasaan di Indonesia.
ANTON

Ref: http://www.mail-archive.com/forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com/msg42630.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: