Posted by: admin | October 7, 2010

Fenomena Ban Serep

“Adalah sangat memuakkan saat seseorang hanya hadir disaat ia minta didengar, diperhatikan dan dihargai. Sementara dia tidak pernah mendengar, memperhatikan dan menghargai kita.” – K-ray Cahyadi –

Bayangkan bila Anda adalah sebuah ban serep alias ban cadangan. Sebagian besar waktu Anda dihabiskan di dalam gelap dan sumpeknya sebuah bagasi. Mungkin cukup beruntung bila Anda adalah ban serep sebuah mobil jeep yang digantung dengan gagahnya di pintu belakang. Atau mungkin akan sangat menyebalkan bila Anda adalah ban serep sebuah mobil keluarga semacam Avanza atau Xenia, Anda tergantung berdebu di bagian bawah. Tidak jarang saat mobil terkena polisi tidur yang cukup tinggi, Anda akan berbenturan dengan polisi tidur tersebut. Sering kita mengeluh saat membawa barang lebih di bagasi karena volume bagasi yang berkurang akibat keberadaan ban serep. Bahkan banyak orang yang hampir tidak pernah menggunakan ban serep sama sekali, sehingga pada saat harus menggunakannya, didapati ban serep tersebut karetnya menjadi terlalu kaku, getas, mudah rusak. Memang sebuah ban serep atau cadangan hanya difungsikan di saat-saat krusial, tidak ada perawatan dan perhatian khusus kepadanya.

Mungkin cukup aneh bagi Anda, bahwa harus sedemikian panjang untuk saya menjelaskan apa yang dialami ban serep. Sebenarnya bila Anda cermati di dalam kehidupan, ada banyak orang-orang yang Anda perlakukan selayaknya ban serep. Anda hanya menghubunginya di saat genting, Anda hanya datang padanya di saat kesusahan. Anda hanya butuh bantuannya, tidak perlu kondisi apa yang sebenarnya sedang ia hadapi.

Bila Anda adalah seorang konselor dan konsultan tentunya Anda akan sangat sering menjumpai tipe-tipe manusia seperti ini. Selalu datang di saat-saat sulit mereka, tentunya Andapun tidak bisa mengeluh terlalu banyak karena ini adalah tuntutan dari pekerjaan Anda (and of course you get a good payment). Namun lain ceritanya apabila Anda mengalaminya dalam kehidupan sehari-hari Anda. Seorang teman yang selalu mengusik hidup Anda disaat dia membutuhkan pertolongan, dan segera menghilang pada saat dia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan dan Anda melakukannya secara gratis atas nama persahabatan.

Dalam bidang pekerjaan sering kita temukan di kantor, para manusia tidak tahu diri yang membebani tugas pekerjaan mereka pada orang lain. Tanpa rasa berdosa menambahkan pekerjaan pada orang lain, padahal itu bukanlah tugas dari “ban serep” tersebut. Kadang dalam tahap keterlaluan, seorang “ban serep” yang tidak mendapatkan penanganan yang segera dapat melakukan hal nekat. Berapa banyak kasus penembakan di tempat kerja terjadi di Amerika Serikat?

Dalam bidang pendidikan, kita mengenal istilah bullying. Bila bullying jelas-jelas menyalahi aturan, ada sebuah bentuk pemanfaatan halus yang terjadi di sekolah. Anak-anak “sumber contekan dan PR”-lah yang biasa menjadi “ban serep” di sini. Mereka hanya dicontek PR dan test-nya. Sementara tidak dianggap dalam pergaulan, malahan disebut kutu buku, orang aneh dan autis yang hanya main video game (padahal memang karena tidak ada seorangpun yang mau bergaul dengan mereka). Biasa di usia ini tindakan paling nekat adalah bunuh diri (seperti yang terjadi di Jepang) atau kasus penembakan (Amerika).

Atau bagaimana rasanya saat orangtua merasa dijadikan ban serep? Hanya dihubungi pada saat seorang anak membutuhkan kiriman uang, butuh nasehat, butuh didengar. Sementara pada saat senang, bahagia, tidak sekalipun diingat, diperhatikan? Bahkan dalam beberapa kasus, orangtua justru ditugaskan mengurus cucu karena dirinya begitu sibuk asyik dengan pekerjaan dan kegiatan? Orangtua Anda BUKAN ban serep! Rasanya begitu pahit seorang anak yang dibesarkan dengan penuh kasih hanya meminta dan tidak pernah memberikan perhatian. Terlebih lagi justru semakin merepotkan ketika sudah berumahtangga dengan menugaskan orangtua mengurus cucunya.

Lain halnya dalam bidang hubungan percintaan. Ada beberapa orang yang mempraktekkan hal ini dalam kehidupan percintaan mereka. “Jaring Pengaman Kedua” demikian kadang pria/wanita “ban serep” ini disebut. Selalu menyediakan waktunya, perasaannya, pikirannya bahkan harta mereka untuk orang yang mereka cintai tanpa menyadari bahwa sebenarnya mereka hanya sedang diperalat. Akhirnya banyak sekali kata “capek hati” yang keluar dari para “ban serep” ini, sementara dia di sana tersenyum bahagia karena sudah mendapatkan semua yang mereka inginkan. Habis manis sepah dibuang demikianlah peribahasa yang sangat tepat untuk menggambarkan situasi ini. Secantik atau seganteng apapun orang itu, tinggalkan saja. Karena di luar sana orang yang tepat sedang menunggu Anda.

Semua hal yang dialami hasilnya begitu banyak trauma dan sindrom yang sulit diobati. Setiap pengobatan perlu berjam-jam terapi dan rekonsiliasi. Luar biasa bukan? Sebuah kata sepele bernama “egois” bisa melahirkan begitu banyak masalah yang kompleks. Cobalah refleksikan berapa banyak ban serep sudah Anda sakiti karena keegoisan anda? Selalu meminta waktu untuk didengarkan, selalu meminta pertolongan, selalu ingin diperhatikan, selalu ingin dinomorsatukan. Apakah yang Anda sudah lakukan untuk para ban serep ini? Sadar dirilah bahwa Anda adalah seorang yang egois, suatu hari Anda akan diperlakukan rekan kerja, sahabat, kekasih, bahkan oleh anak Anda sebagaimana Anda sudah berbuat demikian. Siapa menabur, dia menuai. Sebagai penutup, sebuah saran, nasehat bagi para ban serep di luar sana adalah: Adalah lebih baik menikmati hidup Anda tanpa memusingkan otak Anda dengan memikirkan masalah orang-orang yang tidak tahu diri. Tidak baik mempersulit diri kita dengan masalah orang lain, beranilah berkata “TIDAK!” untuk kebaikan Anda sendiri.

Sumber : Cahyadi Tanujaya


Responses

  1. nice to try.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: