Posted by: admin | October 17, 2010

The OLDCRACK (eks-KNIL) di pasukan Permesta

Setelah Pemboman oleh Pemerintah Pusat lewat AURI atas kota Manado 22 Februari 1958, maka dikeluarkan pemberitahuan oleh Mayor W. Najoan dari penerangan angkatan darat KDM SUT untuk kepada siapa saja yang ingin membela PERMESTA untuk sukarela melapor dan dijadikan militer PERMESTA, beserta itu juga diberitahukan bahwa Komando Daerah Militer Sulawesi Utara dan Tengah yang secara struktur organisasi militer berada di bawah Teritorium VII Wirabuana dinyatakan dalam keadaan darurat perang-Staat Oorlog en Behleg (S.O.B).

Maka secara spontanitas pelajar, mahasiswa, pemuda, dan orang dewasa yang sanggup memanggul senjata di seluruh Sulawesi Utara datang melapor untuk siap dipersenjatai menjadi militer PERMESTA, dan tidak terkecuali ex-KNIL sesuai dengan ketentuan militer professional mereka harus melapor untuk siap kembali bertugas jika negara dalam keadaan darurat perang, hal ini telah ditegaskan sebelum mereka meninggalkan KNIL atau pada saat terakhir ketika KNIL di Indonesia dibubarkan tahun 1950 di Indonesia Timur, di Makassar oleh panglima TT-VII Wirabuana Kol.(TNI) A.E Kawilarang.

Hampir 5000 ex-KNIL terkumpul kembali dengan usia sebagian besar mereka berada diatas 40-an dan 50-an, serta beberapa dari mereka ada yang mendekati 60 tahun. Beberapa ex-Marechausse (baca Marsose) melapor tetapi sudah tidak cukup memenuhi syarat karena berada pada usia 70 tahun, yang mana beberapa dari mereka pernah bertugas dibawah kesatuan 10th Marechausse Brigade yang terkenal (Marechausse dibuatkan museum tersendiri di negeri Belanda untuk mengenang kesatuan ini, Marechausse memiliki arti secara harafiah; “Abdi/Mengabdi ” atau Abdi Raja/Ratu bisa juga secara bebas disebut Imperial Guards-pengawal kerajaan koloni, marechausse sendiri berfungsi sebagai pasukan ringan/mobilitas tinggi tetapi punya penetrasi/kemampuan gempur yang efektif terhadap pertahanan gerilya lawan, dan konon Mobile Brigade milik POLRI didirikan karena terinspirasi oleh unit ini). Ke-5000 ex-KNIL tersebut lebih banyak di alih tugaskan ke bagian senjata berat; Arteleri Medan/awak meriam lapangan dan Penangkis Serangan Udara (Anti-Airassult/Aircraft) mengingat usia mereka, tetapi yang tetap memiliki syarat dan kualifikasi untuk tugas di unit Infanteri tetap diberi tugas sebagai komandan komandan kompi baik kompi otonom maupun kompi dalam battalion, dan diakui setelah perang PERMESTA usai, ex-KNIL tersebut banyak membantu terutama dari segi pengalaman sebagai militer professional, banyak kompi-kompi campuran ex-KNIL dan TNI di Batalion-Batalion pasukan PERMESTA mendatangkan kesulitan luar biasa bagi tentara Pusat di medan tempur.

 

Awal Juni 1958 setelah AUREV-angkatan udara revolusioner/Permesta ditarik dari mapanget, karena pilot AUREV kebangsaan Amerika; Kapten pilot (Aurev)Allan Pope pesawatnya tertembak jatuh dan tertangkap bersama navigatornya Letnan (Aurev) Jan Harry Rantung, menguak keterlibatan Amerika di PERMESTA TROOPS. Maka AUREV praktis tidak bisa beroperasi leluasa menggunakan lapangan udara PERMESTA di Mapanget (Sam Ratulangi Airport sekarang).

Sebuah Operasi dari tentara Pusat, melalui RPKAD (sekarang KOPASSUS) di gelar untuk merebut lapangan udara Mapanget dari Permesta, dengan komandan operasi Lettu. B. Moerdani, dikemudian hari diketahui Moerdani hanya di Pos Komando operasi dipinggiran pantai Wori, tidak menyertai pasukannya masuk ke Mapanget. Pasukan PERMESTA di Mapanget tidak siap menghadapi serbuan dadakan RPKAD ini memilih mundur ke pinggiran lapangan Mapanget arah kota Manado sebagian mereka yang tidak sempat mundur tertangkap dan persenjataan dilucuti , dan setelah mendapat konfirmasi kekuatan pasukan tentara pusat yang menyerbu Mapanget, maka Overstee (Permesta) Wim Joseph sebagai komandan pertahanan pangkalan mengerahkan 3 kompi pasukan Permesta untuk menyerang balik ke Mapanget, diantaranya Kompi CTP Jimmy Boys(Komando Reserve Umum), Kompi Togas (belakangan menjadi Batalion T) dan Kompi KMKB-kope2 Manado, ditambah satu peleton kawal dari Batalion X ditambah 2 Panzer ringan dari Kaveleri PERMESTA (Panzer ini buatan Inggris).

Sergapan pasukan Pasukan PERMESTA pimpinan Overstee (Permesta) W. Joseph membuahkan hasil, setelah musuh mencoba penyerangan senyap dimalam hari dimana akhirnya pergerakan mereka terdeteksi dan tejadi pertempuran terbuka, pertempuran singkat itu menewaskan Sersan (RPKAD)Tugiman, Sersan (RPKAD) Tugiman ditewaskan oleh peleton kawal dari Batalion X ketika dia dan beberapa RPKAD lainnya berusaha menyerang posisi peleton kawal dari Batalion X dimana Overstee (permesta) W. Joseph juga berada disitu. Dini hari sebelum fajar RPKAD menghilang atau mundur dari Mapanget membawa rekan-rekan mereka yg luka-luka kemungkinan termasuk beberapa mayat rekan mereka yang tewas.

Dua hari setelah pertempuran pasukan PERMESTA melakukan penyisiran perimeter sekeliling lapangan Udara Mapanget yang dilakukan Kompi-CTP Jimmy Boys dimana mereka menemukan seorang Kopral (RPKAD) Taher (orang Tegal)* di semak belukar di pinggiran Mapanget, ia terluka berat oleh peluru dari Browning Machine Gun .30 Cal., lukanya hampir membusuk, kemudian Kopral (RPKAD) Taher dibawa ke Rumah Sakit PERMESTA. Rumah Sakit PERMESTA tersebut dikepalai seorang Major (medis) keturunan China asal Manado sekaligus sebagai Komandan Detasemen Medis pasukan Permesta. (*Taher setelah sembuh dari luka-lukanya dia bergabung dengan tentara Permesta mengingat di tentara Permesta ada juga RPKAD yg bergabung, di perkirakan 40 personil RPKAD bergabung sebelum pecah perang. Dan setelah perang Permesta usai Taher pulang ke Jawa melapor kembali kesatuan-nya di RPKAD, dimana dia sendiri sudah dinyatakan tewas dalam tugas dan Jasadnya tidak diketahui, apalagi mengingat Tentara Pusat/TNI-Brawijaya memberi provokasi-pemberitaan bahwa PERMESTA adalah pasukan gerombolan dan barbar, tetapi Kopral (RPKAD) Taher memberi kesaksiannya atas apa yang dialami-nya selama dia dirawat karena lukanya dan sebagai tahanan, dan menerangkan ke atasannya bahwa setelah sembuh dia akhirnya memilih bergabung dengan tentara Permesta dan ikut bertempur melawan Tentara Pusat/TNI-Brawijaya, Kopral (RPKAD) Taher akhirnya mendapat penghargaan kenaikan pangkat ke Sersan Major RPKAD-TNI dan mendapat bintang Jasa).

 

Tidak berapa lama setelah kegagalan RPKAD di Mapanget, AURI datang menyerang Mapanget dengan kekuatan pesawat pesawat pemburu P-51 mustang, dimana mereka praktis beroperasi leluasa dan datang dari Morotai yang telah direbut TNI dari Pasukan PERMESTA di kep. Halmahera, dimana sekalipun TNI menyerbu ke Maluku Utara dan berhasil menguasai lapangan Udara Morotai milik PERMESTA, TNI tidak sanggup mengalahkan pasukan PERMESTA yang bertahan di kep. Halmahera atau KDP I Tentara Permesta. Pesawat-pesawat AURI sendiri sebelum RPKAD mencoba menyerang Mapanget, telah berhasil dirontokan oleh pertahanan lapangan udara PERMESTA di Mapanget yang notabene mereka adalah ex-KNIL yang mengawaki kanon-kanon anti serangan udara, dan sampai pada saat itu mereka atau ex-KNIL tersebut telah merontokan 3 pesawat AURI dimana sebuah pesawatnya jatuh di tanjung merah-Girian dan menewaskan Pilotnya, 2 lainnya jatuh ke laut tetapi Pilot-pilotnya berhasil meloncat keluar pesawat dan mendarat dengan parasut dilaut, kemudian di evakuasi oleh ALRI.

Dan sejauh itu merupakan kemenangan Angkatan Darat Revolusioner-PERMESTA terhadap AURI setelah AUREV-PERMESTA praktis tidak leluasa beroperasi.

 

Kembali seperti biasa AURI menyerang Mapanget dan seluruh awak kanon anti serangan Udara PERMESTA kembali menembak beruntun serempak ke Udara dari mana datangnya pesawat-pesawat AURI; sebut saja salah seorang ex-KNIL; Oom Pandey menjadi awak Kanon Anti Serangan Udara sudah berkacamata dan berusia diatas 50-an dengan tenang tanpa menunjukan airmuka gugup masih sanggup menembakan kanon anti serangan Udara ke arah pesawat pemburu AURI, dimana pesawat pemburu AURI tersebut sedang mengincar posisi kanon dari Oom pandey sambil menembakan roket serta mitraliur, dan roket pesawat pemburu AURI tersebut menerpa pinggiran kanon anti serangan Udara dan membuat Oom pandey tersebut terlempar keluar posisinya untung saja Oom Pandey tersebut tidak terluka, dia bergeming dan bergegas kembali duduk dibelakang kanon dan kembali memutar posisi kanonnya ke arah pesawat pemburu AURI dan menembak. Kanon-kanon anti serangan Udara PERMESTA lainnya menembak dan menebar peluru seperti jala di Udara Mapanget…sampai akhirnya pesawat-pesawat AURI menghilang dari wilayah Udara Mapanget.

Pertahanan Udara PERMESTA di Mapanget merupakan pertahanan Udara terkuat yang diakui pernah dihadapi AURI sepanjang sejarah AURI berdiri dan terlibat diberbagai penugasan operasi udara.

 

Beberapa eks-KNIL juga mengawaki meriam lapangan seperti meriam berkaliber 155mm meriam pertahanan pantai digaris pantai Kota Manado, Recoilles Gun cal. 75 atau mortar 81 dalam memberikan tembakan bantuan kepada gerak maju Infanteri PERMESTA, atau membuyarkan serangan atau posisi musuh.

Di Infanteri PERMESTA eks-KNIL terlibat juga di garis depan, sebut saja Major (Permesta) Sem Lepar eks-KNIL juga, jauh sebelum menjabat kepala staf brigade Pancasila/Wehrkrise III di KDP II tentara Permesta, Major Lepar ini pernah memimpin Kompi KMKB –Manado (Garnizun) menahan gerak maju pasukan Tentara Pusat dari arah Tuminting ke kota Manado, dan menjadi pasukan terakhir yang meninggalkan kota Manado sebelum Manado di kuasai Tentara Pusat.

Sementara itu di awal perang PERMESTA, tentara PERMESTA melancarkan “offensive operation” ke Sulawesi Tengah dan banyak eks-KNIL diikutkan dioperasi itu beserta dengan Brigade 999 dan eks Batalion 719-TNI(belakangan sebagian menjadi Batalion Q) dibawah komando panglima operasi Kolonel (Permesta) D.J Somba mereka sukses menguasai SulTeng, Tapi tidak berapa lama sebagian besar pasukan yang merebut SulTeng (Brigade 999) balik ke Minahasa melalui darat lewat hutan belantara, dimana eks-KNIL itu kebanyakan mati diperjalanan balik atau ketika mereka long march melintasi hutan belantara dari Sulawesi Tengah ke Minahasa, kebanyakan eks-KNIL tidak sanggup meneruskan perjalanan lagi karena usia dan habisnya perbekalan, mereka hanya menulis surat dan menitipkan pesan untuk keluarga mereka melalui tentara-tentara Permesta yang lebih muda yang masih sanggup melanjutkan perjalanan kembali ke Minahasa.

 

Ada juga Major (Permesta) David Pantow eks-KNIL yg pernah menjadi tawanan perang Jepang di Perang Pasifik, ditawan Jepang di Rabaul (kamp interniran), pada awal perang Permesta di Gorontalo, didesa Telaga, Kompinya terjebak ditengah-tengah satu Batalion TNI, dalam keadaan dikepung dan diserbu oleh tembakan jarak dekat dan bayonet oleh tentara Pusat ke posisi Kompinya, Major (Permesta) David Pantow dan seorang perwira peleton lainnya juga eks-KNIL dengan pistol ditangan kiri dan kelewang KNIL ditangan kanan mereka berdua memotong-motong ratusan TNI yg datang menyerbu dengan bayonet sampai akhirnya kompi Major (Permesta) David Pantow mendapat celah untuk keluar dari kepungan. Dan Major (Permesta) David Pantow ini kemudian menjadi Komandan Batalion O/Pinaesaan dan ikut membawa Batalionnya tersebut dalam operasi serangan umum di Kawangkoan.

Setelah Kotamobagu jatuh ke tangan Tentara Pusat sept. 1959, di tahun 1960 di daerah dumoga Batalion O/Pinaesaan pernah memukul mundur telak Batalion 521/Brawijaya TNI meninggalkan ratusan personilnya tewas. Major David Pantow sendiri setelah perang Permesta berhenti lewat penyelesaian 4 April 1961, ketika ditugaskan dengan beberapa perwira menengah tentara Permesta yg akan meng-sosialisasikan ke Tentara Permesta yg masih dikantong-kantong pertahanan di daerah Brigade 999 untuk diberi himbauan supaya turun dari daerah kantong gerilya sesuai kesepakatan 14 April 1961 dengan Pemerintah Pusat, dia dijebak diperjalanan oleh Tentara Pusat yang juga bersama dengan mereka, dihutan sebelum area Tompaso Baru dan dibunuh oleh Tentara Pusat/TNI-Brawijaya (dendam peristiwa telaga) termasuk perwira menengah Permesta yg ikut dengannya. Kemudian dilaporkan Tentara Pusat bahwa Major (Permesta) David Pantow beserta beberapa perwira menengah Tentara Permesta yang ikut dengannya disergap dan di bunuh oleh Tentara Permesta yang tidak mau menerima penyelesaian perang Permesta.

Banyak lagi kisah kisah para eks-KNIL di PERMESTA TROOPS lainnya yang menunjukan loyalitas dan profesionalitas mereka sebagai militer. Sekalipun dalam usia yang dinyatakan sudah hampir tidak memenuhi syarat di medan tempur, setidaknya eks-KNIL atau “the Oldcrack” atau tentara tua yang berpengalaman telah memberikan contoh moril dan moral dalam pertempuran bagaimana seharusnya untuk menghadapi pertempuran itu sendiri. Dengan disiplin tentara yang “Cadaver” atau disiplin mati, mereka tidak pernah melibatkan dan dilibatkan dalam bentuk apapun yang berbau politik, militer yang benar-benar bertugas untuk perang saja, dan dalam pertempuran sering kali para KNIL menghunus kelewang KNIL mereka untuk bertempur dalam jarak dekat sambil berteriak dengan lantangnya “KNIL nooit retraite!” (KNIL pantang mundur).

Dan sangat pantaslah dengan badge atau lambang KNIL; seekor singa jantan yang berdiri mengaum sambil mengangkat pedang dan memegang perisai khas cakalele dengan warna keseluruhan orange bright (KNIL-Koninglijke Nederland Oost Indische Leger-Legiun Kerajaan Hindia Timur Belanda). Tidak ada salahnya juga terima kasih dan penghormatan disematkan kepada orang-orang tua bekas-bekas KNIL yang telah mendedikasikan sisa hidupnya dan mati dalam pertempuran untuk membela panji-panji PERMESTA pada perang PERMESTA 1958-1961.

KNIL-“ Singa-singa dari Hindia Timur.”

 

 

Ref:

Erwin Saderac Pioh wrote on :

http://www.facebook.com/topic.php?uid=55408563203&topic=13118


Responses

  1. ada koreksi mengenai jumlah rekrutan KNIL di Permesta setelah dilakukan cek dan re-check wawancara dengan kol.(Adrev/Permesta) Wim Tenges, jumlah mereka adalah 2000 personil, bukan 5000. terima kasih atas perhatiannya

  2. MEMORIAL TO THE ‘DARK GREY’ BERETS AT PERMESTA ARMED FORCES

    Setelah Pemboman oleh Pemerintah Pusat-Jakarta lewat AURI atas kota Manado 22 Februari 1958, maka dikeluarkan pemberitahuan oleh Mayor(TNI) W. Najoan dari penerangan TNI-AD KDM SUT untuk kepada siapa saja yang ingin membela PERMESTA untuk sukarela melapor dan dijadikan militer APREV-PERMESTA, beserta itu juga diberitahukan bahwa Komando

    Daerah Militer Sulawesi Utara dan Tengah yang secara struktur organisasi militer berada di bawah Teritorium VII Wirabuana dinyatakan dalam keadaan darurat perang-Staat Oorlog en Behleg (S.O.B).

    Maka secara spontanitas pelajar, mahasiswa, pemuda, dan orang dewasa yang sanggup memanggul senjata di seluruh Sulawesi Utara datang melapor untuk siap dipersenjatai menjadi militer PERMESTA, dan tidak terkecuali ex-KNIL sesuai dengan ketentuan militer profesional mereka harus melapor untuk siap kembali bertugas jika negara dalam keadaan darurat perang, hal ini telah ditegaskan sebelum mereka meninggalkan KNIL atau pada saat terakhir ketika KNIL di Indonesia dibubarkan tahun 1950 di Indonesia Timur, di Makassar oleh panglima TT-VII Wirabuana Kol.(TNI) A.E Kawilarang. Sekitar 2000-an ex-KNIL (konfirmasi jumlah di dapat dari ex-Kolonel (Permesta) W. Tenges) mereka terkumpul kembali dengan usia sebagian besar mereka berada diatas 40-an dan 50-an, serta beberapa dari mereka ada yang mendekati 60 tahun. Beberapa ex-Marechausse (baca Marsose) melapor tetapi sudah tidak cukup memenuhi syarat karena berada pada usia 70 tahun, yang mana beberapa dari mereka pernah bertugas dibawah kesatuan 10th Marechausse Brigade yang terkenal (Marechausse dibuatkan museum tersendiri di negeri Belanda untuk mengenang kesatuan ini, Marechausse memiliki arti secara harafiah; “Abdi/Mengabdi ” atau Abdi Raja/Ratu bisa juga secara bebas disebut Imperial Guards-pengawal kerajaan koloni, marechausse sendiri berfungsi sebagai pasukan ringan/mobilitas tinggi tetapi punya penetrasi/kemampuan gempur yang efektif terhadap pertahanan gerilya lawan, dan konon Mobile Brigade milik POLRI didirikan karena terinspirasi oleh unit ini).

    Ke-2000 ex-KNIL tersebut lebih banyak di alih tugaskan ke bagian senjata berat; Arteleri Medan/awak meriam lapangan dan Penangkis Serangan Udara (Anti-Airassult/Aircraft) mengingat usia mereka, tetapi yang tetap memiliki syarat dan kualifikasi untuk tugas di unit Infanteri tetap diberi tugas sebagai Bintara, Perwira Peleton, komandan komandan kompi baik kompi otonom maupun kompi dalam Batalion, dan diakui setelah perang PERMESTA usai, ex-KNIL tersebut banyak membantu terutama dari segi pengalaman sebagai militer profesional, banyak kompi-kompi campuran ex-KNIL dan TNI di Batalion-Batalion pasukan PERMESTA mendatangkan kesulitan luar biasa bagi tentara Pusat(TNI) di medan tempur.

    SITUASI RESIMEN TIM PERTEMPURAN ‘ANOA’/KDP IV TENTARA PERMESTA – SULAWESI TENGAH/SELATAN:

    Akhir Maret 1958 elemen-elemen tingkatan kompi TNI mulai melakukan penetrasi dan pendaratan di Sulawesi Tengah, pembelotan satu Batalion Tentara Permesta (kelak menjadi TNI Batalion 758) yg dipimpin Kapten (Permesta) Frans Karangan asal Toraja memberikan pengaruh yg cukup mengoyahkan posisi KDP IV-Tentara Permesta yg di komandoi oleh Kolonel (Permesta) J.W (Dee) Gerungan yg bermarkas di Poso, dimana Kota Pelabuhan Parigi pada situasi ini telah dalam keadaan dikuasai oleh TNI.

    April 29, 1958 Operasi Jakarta I digelar Tentara Permesta untuk mendarat dan merebut pulau Morotai, di Kepulauan Maluku utara dengan panglima operasi Kolonel (Permesta) Noen Pantow, dan sebagai komandan Batalion Tim Pertempuran adalah Mayor (Permesta) Jongky R Kumontoy, dan awal Mei 1958 untuk menguatkan posisi Resimen Tim Pertempuran ‘Anoa’/KDP IV Tentara Permesta di Sulawesi Tengah maka tentara PERMESTA melancarkan Operasi Jakarta II – ke Sulawesi Tengah dimana banyak eks-KNIL diikutkan dioperasi itu beserta dengan cikal bakal Brigade 999 dengan komposisi Batalion; -Komandan Batalion Mayor (Permesta) J. Timbuleng# Kompi 1- Letnan satu (Permesta) Goan Sangkaeng-Kompi ini kemudian menjadi Batalion dalam Brigade 999# Kompi 2- Letnan satu (Permesta) Daan Karamoy-Kompi ini kemudian menjadi Batalion dalam Brigade 999 dan kemudian keluar dari formasi Brigade 999 menjadi Batalion D/Wk. II/KDP II Tentara Permesta# Kompi 3- Letnan satu (Permesta) Sam Langi-Combat ini kemudian menjadi Batalion L/Wk.IV/KDP II Tentara Permesta # Kompi 4-dari KoP2 Manado# Kompi 5-ex-KNIL# Kompi Bantuan Senjata Berat-ex-KNIL# Peleton Fore Speed – Letnan Satu (Permesta) Nicholas Sulu-personil keseluruhan Peleton ini dari RPKAD yg bergabung dengan Tentara Permesta, yg kemudian setelah balik ke Minahasa menjadi satuan unit Kompi di Lokon/Tomohon.

    Mereka dibawah komando panglima operasi Kolonel (Permesta) D.J Somba, dimana pada 8 Mei 1958 mereka sukses mendarat dari laut dibawah perlindungan AUREV dan menguasai Kota Parigi, Sulawesi Tengah dengan formasi Batalion Tim Pertempuran, dan saat berhasil merebut Sulawesi Tengah(Parigi, Kebon Kopi, Toboli) mereka ketambahan personil-personil baik dari TNI maupun rekrutan baru dari penduduk dari daerah Poso, juga mereka berhasil melakukan kontak dengan pasukan dari Kolonel (permesta) J.W (Dee) Gerungan; yaitu Batalion 719(Permesta) pimpinan Mayor (Permesta) Lukas Palar dimana sebagian personil Batalion ini juga adalah dari ex-KNIL yg dijadikan TNI beberapa tahun sebelum perang Permesta terjadi, dan pada situasi tersebut Batalion 719 telah menjadi Batalion APREV-Permesta. Tak lama berselang AURI datang membom kota Parigi menghancurkan kapal-kapal pendarat Tentara Permesta dan beberapa hari kemudian di Poso AURI menghajar posisi Batalion Tentara Permesta yg dipimpin Mayor (Permesta) Lukas Palar, untuk mendukung penetrasi pasukan TNI Batalion 758 pimpinan Kapten Frans Karangan yg sebelumnya adalah Batalion yg dipersenjatai oleh APREV-Permesta tetapi kemudian membelot berpihak ke Tentara Pusat (Jawa), pasukan pembelot bergerak beserta satuan-satuan dari Mobile Brigade PolRI. Dan dalam pergerakan mundur Batalion APREV-Permesta yang mana didanau Poso tersebut Mayor (Permesta) Lukas Palar terluka oleh serangan Pesawat AUREV-Permesta yg datang kemudian setelah pesawat AURI sudah pergi dari wilayah Udara Poso, Pesawat AUREV-Permesta tersebut salah meng-identifikasi pasukan yg menyeberang danau poso saat itu, dan Mayor(Permesta) Lukas Palar tewas oleh karena luka berat, tertembak pada saat menyeberang danau Poso dengan Motorboat dan disertai beberapa pengawalnya. Dan 23 Mei 1958 sebuah Resimen Tim Pertempuran dari KODAM V/Brawijaya menyerang Kota Parigi, Kebon Kopi, dan merebut Toboli. Dan pada situasi ini Kompi markas dari Batalion Mayor (Permesta) L ukas Palar terputus alur hubungan mereka dengan induk pasukan oleh penetrasi pasukan TNI dan tertinggal di area antara Poso-Kebon Kopi, dimana Kompi Markas ini di pimpin Letnan Satu (Permesta) Lomboan, kemudian Kompi markas Batalion 719 ini bersama Letnan Satu (Permesta) J. Lumingkewas seorang Perwira Batalion 719 melakukan langkah berani disebabkan tidak mungkin lagi bergabung ke Induk Pasukannya maka mereka memutari dan melewati jalan lain di Kebon Kopi dalam usaha menghindari pasukan TNI yg dalam kekuatan Batalion-batalion yg sedang bergerak ke-arah Poso & Palu, dan se-sampai nya di pinggiran Kota Parigi mereka menyusun rencana singkat untuk penyerangan, dan tak lama kemudian Kompi Markas Batalion 719(Tentara Permesta) ini mengobrak-abrik kota Parigi dengan bantuan tembakan senjata berat recoilles Gun 75mm, dimana saat itu dipelabuhan Kota sementara di gunakan untuk debarkasi pasukan TNI & logistic, dan peluru-peluru arteleri recoilless Gun 75mm membuat TNI terpencar-pencar dan mundur ke pinggiran hutan kota Parigi, dan sebagian lagi naik 2 kapal kecil yg ada disitu dan keluar dari pelabuhan kota Parigi, kemudian kapal ‘norse lady’ yg digunakan TNI untuk angkut pasukan dan logistic mencoba melarikan diri setelah melihat serbuan tentara Permesta, tetapi usaha kapal ini dihalangi oleh tembakan arteleri recoilless Gun 75mm dari Tentara Permesta, akhirnya kapal ‘norse lady ‘ tersebut dirampas dan digunakan oleh Kompi Markas Batalion 719(Tentara Permesta) untuk mengevakuasi pasukan mereka dan rakyat sipil yg mau ikut eksodus dengan kapal tersebut, kemudian mereka berlayar ke Sulawesi Utara dan mendarat di Belang, Minahasa. Dan untuk mempercepat debarkasi karena di buntuti Korvet TNI-AL, maka kapal ‘norse lady’ ini di rapatkan sampai kandas ditepian pantai Belang, dimana dalam situasi debarkasi di pantai Belang mereka dihujani tembakan dan bom dari pesawat AURI, dan pada pendaratan tersebut banyak sekali penduduk sipil yg tewas di tepian pantai Belang oleh pesawat AURI, sampai air di tepian pantai Belang tersebut me-merah oleh darah,… kemudian Kompi markas Batalion 719 ini di re-organisir menjadi full Batalion(5 kompi senapan+Kompi Senjata Berat+Kompi markas) dengan kode Batalion Q se-tibanya di Kotamobagu dengan Komandan Batalion Mayor (Permesta) J. Lumingkewas, dan Batalion Q bertugas sebagai ‘Striking Batalion’ Resimen Tim Pertempuran “Ular Hitam/KDP III Tentara Permesta sampai akhir Perang, dan unik-nya ditahun 1961 setelah perang sudah dalam fase penyelesaian damai mereka kembali di evakuasi dari Kota Belang, Minahasa. Pada fase mundurnya satuan-satuan Tentara Permesta dari Palu, Parigi, Toboli, Sulawesi Tengah, di area Parigi ke arah kebon kopi satu regu berkekuatan 12 personil Tentara Permesta membuat perimeter pertahanan pada sebuah celah jalan yg pinggiran-nya bertebing dan berjurang untuk melindungi jalur mundur satuan satuan KDP IV Tentara Permesta, dan kebanyakan dari mereka adalah ex-KNIL sebelum mereka bergabung dengan Tentara Permesta. Dan perimeter pertahanan mereka yg terlindung tebing di atas mereka terbukti cukup mumpuni melindungi mereka, dan serangan pasukan TNI dari Resimen Tim Pertempuran/KODAM V Brawijaya yg dipimpin Letkol (TNI) Soemarsono ditahan oleh mereka hampir berhari-hari lamanya dengan senapan mesin .50 Cal, dan B.A.R, berlusin-lusin Personil TNI jatuh tertembak, terluka berat, dan tewas oleh bunker pertahanan ke-12 personil Tentara Permesta ini,…arteleri berat, dan serangan udara dari AURI di kerahkan untuk menghancurkan bunker pertahanan Tentara Permesta di Kebon Kopi ini, tetapi tetap saja peluru-peluru mereka hanya mengenai tebing di samping kiri-kanan bunker pertahanan Tentara Permesta tersebut, sampai akhirnya ke-12 Tentara Permesta ini kehabisan perbekalan dan mereka tinggal bergilir keluar dari bunker pertahanan mereka dan mencari makanan ke penduduk desa sekitar, dan kemudian bertahan sampai mereka satu per satu terluka dan tewas dalam bunker pertahanan tersebut, dan tiap seorang tewas dari mereka maka rekan mereka membawa keluar mayat rekan mereka tersebut dari bunker Pertahanan dan dibantu penduduk sekitar untuk dikuburkan, seorang kepala desa setempat sempat berbicara ke Tentara-tentara Permesta tersebut yg nota bene ex-KNIL…kepala desa tersebut mengatakan kepada Tentara Permesta tersebut kenapa tidak mundur saja, tetapi jawab Tentara Permesta ex-KNIL tersebut bahwa mereka akan tetap bertahan di bunker dan bertempur oleh karena rekan mereka telah tewas ditempat itu dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja sekalipun sudah menjadi mayat, kepala desa itu tidak habis berpikir jawaban Tentara Permesta tersebut…dan benar mereka bertempur sampai tinggal menyisakan 1 personil yg tetap menembakan senapan mesin .50 Cal sampai kehabisan amunisi, kemudian tewas tertembak, dan sangking geramnya TNI yang akhirnya menuntaskan perlawanan ke-12 tentara Permesta tersebut maka mereka memotong-motong dan merusak mayat tentara Permesta tesebut, dimana kemudian rakyat di area Kebon Kopi mengambil jasad Tentara-tentara Permesta tersebut dan menguburkannya, dan diatas kubur mereka diberi tanda,…dan perlawanan ke-12 Tentara Permesta ini menjadi legenda disana (kisah ini diceritakan oleh orang setempat ke ex-Letnan (Permesta) Adrie Pioh tahun 1973 ketika dalam suatu kesempatan berada di Palu,Sulawesi Tengah). Dan tidak berapa lama juga pasukan ‘Operasi Jakarta II’ tentara Permesta yang merebut Sulawesi Tengah dibawah Komando Kolonel (Permesta) D. J Somba akhirnya balik ke Minahasa meninggalkan formasi mereka dari Resimen Tim Pertempuran ‘Anoa’/KDP-IV Tentara Permesta, dalam fase pengunduran satuan-satuan Tentara Permesta di KDP IV/Sulawesi Tengah Kepala Staf Resimen Tim Pertempuran “Anoa”/KDP IV Tentara Permesta Overstee (Permesta) Fred Bolang yg sedang dalam mempersiapkan sebuah Batalion di Sulawesi Utara untuk melengkapi formasi Resimen Tim Pertempuran-‘Anoa’/KDP IV Tentara Permesta akhirnya membatalkan untuk mendatangkan Batalion Tersebut karena telah mendapat kabar bahwa Sulawesi Tengah dan sekitarnya telah di kuasai oleh Tentara Pusat-Jakarta, juga pada saat itu TNI telah melakukan pendaratan di Pantai Kema, dimana kemudian Overstee (Permesta) Fred Bolang menjadi komandan Wehrkrisse I/Brigade Anoa di KDP II Tentara Permesta ditahun 1959 kemudian posisinya diambil alih oleh Mayor (Permesta) Agus Tuwaidan(1960). Sebenarnya Kolonel (Permesta) D. J Somba telah menginstruksikan untuk Batalion Tim Pertempuran dari Mayor (Permesta) J. Timbuleng untuk bergerilya di area Sulawesi Tengah, dan Kolonel (Permesta) D. J Somba akan balik ke Minahasa dengan Peleton Fore Speed elemen TNI-RPKAD yg menjadi Tentara Permesta, dimana Peleton ini di pimpin oleh Letnan Satu (Permesta) Nicholas Sulu. Tetapi alasan Mayor (Permesta) J. Timbuleng bahwa pasukannya tidak akan mendapat pasokan logistic dari penduduk sekitar, dimana penduduk sekitar sudah terpengaruh oleh Pemerintah Pusat/TNI, dan… akhirnya mereka mengikuti Kolonel (Permesta) D. J Somba balik ke Minahasa melewati hutan belantara, dimana pembuka jalan Long March mereka adalah Peleton Fore Speed (RPKAD) dari Letnan Satu (Permesta) Nicholas Sulu, dan pada long march tersebut ex-KNIL banyak yg mati diperjalanan balik, kebanyakan ex-KNIL tidak sanggup meneruskan perjalanan lagi karena usia dan habisnya perbekalan, mereka hanya menulis surat dan menitipkan pesan untuk keluarga mereka melalui tentara-tentara Permesta yang lebih muda yang masih sanggup melanjutkan perjalanan kembali ke Minahasa. Dan Long March pasukan Kolonel (Permesta) D. J Somba ini tetap menjadi kajian di strategi & taktik di TNI-AD hingga saat ini, dimana kejadian ini masih merupakan “Mission Impossible” bagi TNI-AD,…tetapi pernah terjadi. Operasi Jakarta II Tentara Permesta secara Taktik berhasil tetapi dalam mempertahankan untuk kelanjutan operasi tersebut di batalkan karena Praktis-nya AUREV Permesta tidak dapat melanjutkan untuk memberi perlindungan Udara atas gerakan pasukan di wilayah Resimen Tim Pertempuran ‘Anoa’/ KDP IV Tentara Permesta, disebabkan Pilot Pembom Taktis B-26 AUREV- tertembak jatuh, yaitu Kapten (AUREV) A.L Pope dan Navigatornya Letnan (AUREV) J. H Rantung yg tertangkap di Ambon pada 18 Mei 1958 dan ini menjadi titik kemunduran seluruh operasi Perang APREV- Permesta. Sub-Operasi Jakarta II rencananya adalah untuk mendaratkan sebuah Resimen Tim Pertempuran-Tentara Permesta di Balikpapan dan untuk menguasai Borneo(Kalimantan), dimana Sub-Operasi Jakarta II ini sedianya akan di pimpin oleh Overstee (Permesta) W. Tenges tapi akhirnya dibatalkan mengingat wilayah Resimen Tim Pertempuran ‘Anoa’/KDP IV Tentara Permesta sebagai “Titik Tumpuan” atau batu loncatan telah berhasil direbut oleh TNI sekalipun pasukan dari Kolonel (Permesta) J. W (Dee) Gerungan tidak dapat dibuat menyerah oleh TNI disana. Pendekatan secara damai telah dilakukan oleh pihak TNI melalui Komandan TNI Batalion 501/Brawijaya yaitu Mayor (TNI) Sumadi ke Kolonel (Permesta) J. W (Dee) Gerungan, yang mana Mayor (TNI) Sumadi mengirimkan surat ke Kolonel (Permesta) J. W (Dee) Gerungan berisi himbauan untuk menghentikan perang dan pasukan Permesta dibawah pimpinan-nya tetap akan dijamin dan diperlakukan baik-baik dan bukan sebagai tawanan perang,…tetapi Kolonel (Permesta) J. W (Dee) Gerungan menulis surat balasan yg bertuliskan; “Teman yg baik, terima kasih atas perhatiannya, maafkan saya, karena saya sudah terlanjur bersumpah setia kepada Permesta.” Mayor (TNI) Sumadi diketahui sebelumnya adalah teman baik dan se-angkatan dengan Mayor (TNI)/Kolonel (Permesta) J. W. Dee Gerungan sewaktu mereka sama-sama menempuh pendidikan sebagai perwira asing di Kerajaan Belanda sebelum perang Permesta terjadi. Dan Kolonel (Permesta) J. W. Dee Gerungan dan pasukannya akhirnya mundur ke Tanah Toraja tetapi masyarakat disana menolak kehadiran mereka, dan akhirnya jalan pahit-pun ditempuh oleh mereka dengan pergi ke basis gerilya Kahar Muzakar(Darul Islam), dan awalnya diterima baik oleh gerilyawan Kahar Muzakar, tapi berapa minggu kemudian dalam keadaan di kepung oleh gerilyawan Kahar Muzakar Pasukan Kolonel (Permesta) J. W (Dee) Gerungan dilucuti persenjataan-nya, dan dipaksa berpindah agama ke-agama islam sebagai jaminan tidak akan menghianati mereka, tetapi beberapa dari Tentara Permesta tersebut tak melepas ke-iman-an mereka begitu saja sampai akhirnya di tembak mati, seorang Kapten (Permesta) perwira Kompi bermarga Kalalo di Vonis mati didepan Kolonel (Permesta) J. W (Dee) Gerungan,…saat akan ditembak dia dalam keadaan berlutut memegang alkitab-kecilnya se-ukuran saku, dan dia berseru “Hidup YESUS KRISTUS!”…, beriringan dengan itu tembakan senapan memecah keheningan dan peluru menembus kepala dari Kapten (Permesta) Kalalo. Pada akhirnya Kolonel (Permesta) J. W (Dee) Gerungan di bulan Januari 1965 turun dari hutan dengan sisa-sisa Pasukannya, di adili singkat di Mahkamah Militer VII/Wirabuana atas perintah Kolonel (TNI) M. Jusuf KODAM VII/Wirabuana dan ditembak mati oleh pasukan TNI di Makassar,… padahal ada surat perintah langsung dari Presiden Soekarno bahwa J. W. Dee Gerungan harus dikirim ke Jakarta dan tidak boleh diapa-apakan.

    PADA SITUASI MAPANGET AIR FIELD SETELAH AUREV-PERMESTA DI TARIK:

    Awal Juni 1958 setelah AUREV-angkatan udara revolusioner/Permesta ditarik dari mapanget, karena pilot AUREV kebangsaan Amerika; Kapten pilot (Aurev)A. L Pope pesawatnya tertembak jatuh dan tertangkap bersama navigatornya Letnan (Aurev) Jan Harry Rantung pada 18 Mei 1958, membuat Amerika menarik AUREV untuk menutupi menyebar luasnya info pilot-pilot Amerika yg terlibat dalam mendukung pasukan PERMESTA, sehingga AUREV praktis tidak bisa beroperasi leluasa menggunakan lapangan udara PERMESTA di Mapanget (Sam Ratulangi Airport sekarang). Dan sebuah Operasi dari tentara Pusat, melalui RPKAD (sekarang KOPASSUS) di gelar untuk merebut lapangan udara Mapanget dari Permesta, dengan komandan operasi Letnan Satu (TNI) B. Moerdani, dikemudian hari diketahui Moerdani hanya di Pos Komando operasi dipinggiran pantai Wori, tidak menyertai pasukannya masuk ke Mapanget. Pasukan PERMESTA di Mapanget tersebut tidak siap dalam menghadapi serbuan dadakan RPKAD ini, mereka memilih mundur ke pinggiran lapangan Mapanget arah ke-Kota Manado dimana sebagian dari mereka yang tidak sempat mundur tertangkap dan persenjataan mereka dilucuti. Kemudian setelah mendapat konfirmasi kekuatan pasukan TNI yang menyerbu Mapanget, maka Overstee (Permesta) Wim Joseph sebagai komandan pertahanan pangkalan mengerahkan 3 kompi pasukan Permesta untuk menyerang balik ke Mapanget, diantaranya; Kompi CTP Jimmy Boys(Komando Reserve Umum), Kompi Togas (belakangan menjadi Batalion T) dan Kompi KMKB-KoP2 Manado, ditambah satu peleton kawal dari Batalion X Tentara Permesta kemudian dilengkapi 2 Panzer ringan dari Kaveleri PERMESTA, Panzer tersebut buatan Inggris. Sergapan pasukan PERMESTA pimpinan Overstee (Permesta) W. Joseph membuahkan hasil, setelah musuh mencoba penyerangan senyap dimalam hari dimana akhirnya pergerakan mereka terdeteksi dan tejadi pertempuran terbuka, pertempuran singkat itu menewaskan Sersan (RPKAD)Tugiman, Sersan (RPKAD) Tugiman ditewaskan oleh peleton kawal dari Batalion X ketika dia dan beberapa RPKAD lainnya berusaha menyerang posisi peleton kawal dari Batalion X dimana Overstee (permesta) W. Joseph juga berada disitu. Dini hari sebelum fajar menyingsing, RPKAD tersebut mundur dari Mapanget membawa rekan-rekan mereka yg luka-luka kemungkinan termasuk beberapa mayat rekan mereka yang mati tertembak. Dua hari setelah pertempuran di Mapanget ini pasukan PERMESTA melakukan penyisiran perimeter sekeliling lapangan Udara Mapanget yang dilakukan Kompi-CTP Jimmy Boys dimana mereka menemukan seorang Kopral (RPKAD) bernama Taher yang berasal dari Tegal, Jawa-Barat, dia ditemukan berada dalam semak belukar di pinggiran lapangan Udara Mapanget, ia terluka berat oleh peluru dari Browning Machine Gun .30 Cal, tertembus peluru di pahanya, terserempet peluru di pinggang dan dan wajah samping pipi-nya, luka dipahanya hampir membusuk, kemudian Kopral (RPKAD) Taher dibawa ke Rumah Sakit PERMESTA yang pada saat tersebut bermarkas di kota Tomohon. Rumah Sakit PERMESTA tersebut dikepalai seorang Mayor (medis/Permesta) keturunan China asal Manado yaitu dr. Sie yg sekaligus menjabat sebagai Komandan Detasemen Medis pasukan Permesta. Dan pada situasi menjelang Kota Tomohon jatuh ke tangan TNI, Mayor (Medis/Permesta) dr. Sie menolak mundur dari Kota Tomohon(16 Agustus 1958) ketika pasukan Permesta akan bersiap meninggalkan Kota tersebut, dimana Kota Tomohon kemudian direbut oleh pasukan Permesta pimpinan Overstee (Permesta) E. Mondong yg telah beralih(membelot) ke pihak TNI, dan dr. Sie menolak untuk di evakuasi karena alasan dari dr. Sie korban luka-luka berat tidak dapat di evakuasi lagi selain hanya yg luka ringan dan mereka yg lukanya sudah mendekati penyembuhan yg bisa di evakuasi, juga alasan dr. Sie tidak mau meninggalkan mereka yg luka berat karena ada kemungkinan mereka bisa di Vonis(tembak mati) oleh TNI yg sudah kalap karena banyak teman mereka yg sudah tewas sebelumnya,… dan berita kemudian Mayor (Medis/Permesta) dr. Sie tertawan oleh TNI bersama korban-korban luka-luka berat dari tentara Permesta, mereka tidak di apa-apakan oleh TNI karena dr. Sie telah mengajukan persyaratan tawanan perang yg terluka atas dasar konvensi Geneva. Sementara Kopral (RPKAD) Taher lukanya mendekati sembuh dan ikut di evakuasi keluar dari Kota Tomohon oleh Tentara Permesta, dan Taher setelah sembuh dari luka-lukanya dia bergabung dengan tentara Permesta mengingat di tentara Permesta ada juga RPKAD yg bergabung, di perkirakan 40 personil RPKAD bergabung sebelum pecah perang, dimana RPKAD ini kebetulan bertugas di Makassar TT VII/Wirabuana dengan kekuatan 1 Unit Team dengan kode Team; “Beruang Merah,” dengan komandan Team-nya Kapten (TNI-RPKAD) Alex Waworuntu seorang ex-KL/KNIL dan merupakan angkatan pertama yg tamat dari penggodokan RPKAD, dan pada saat terjadi pemboman Kota Manado kebetulan Team “Beruang Merah”/RPKAD ini sedang mengambil cuti dari tugas dan berlibur di Manado. Perlu diketahui juga bahwa RPKAD beberapa personilnya adalah ex-KNIL dan ex-Paratroop Belanda yg digodok pada angkatan-angkatan awalnya oleh pendiri RPKAD yaitu Kolonel (TNI) A. E Kawilarang yg menjabat Panglima Tertinggi APREV-Permesta saat itu dengan pangkat Mayor Jenderal (APREV-Permesta). Dan pemberitaan bahwa PERMESTA adalah pasukan gerombolan dan barbar oleh satuan-satuan TNI Brawijaya sebelumnya tidak sepenuhnya benar sebab Kopral (RPKAD) Taher mengalami-nya sendiri selama dia dirawat karena lukanya dan sebagai tahanan, dengan tentara Permesta di Batalion Q dia ikut bertempur melawan Tentara Pusat/TNI-Brawijaya. Setelah perang Permesta usai Kopral (RPKAD) Taher kembali ke-Jawa dan melapor ke-kesatuannya, dimana kabar kemudian Komandannya terkejut melihatnya karena sudah di nyatakan terbunuh dalam Tugas dan Jasadnya tidak ditemukan, kemudian akhirnya Taher mendapat penghargaan kenaikan pangkat ke Sersan Major TNI-RPKAD dan mendapat bintang Jasa.

    Tidak berapa lama setelah kegagalan RPKAD di Mapanget, AURI datang menyerang Mapanget dengan kekuatan pesawat pesawat pemburu P-51 mustang, dimana mereka praktis beroperasi leluasa dan datang dari Morotai yang telah direbut TNI dari Pasukan PERMESTA di kep. Halmahera, dimana sekalipun TNI menyerbu ke Maluku Utara dan berhasil menguasai lapangan Udara Morotai milik PERMESTA, TNI tidak sanggup mengalahkan pasukan Mayor (permesta) J. Kumontoy yang bertahan di kep. Halmahera, atau wilayah KDP I Tentara Permesta. Pesawat-pesawat AURI sendiri sebelum RPKAD mencoba menyerang Mapanget, telah berhasil dirontokan oleh Kompi Pertahanan Lapangan Udara PERMESTA di Mapanget yang notabene mereka adalah ex-KNIL yang mengawaki kanon-kanon anti serangan udara, dan sampai pada saat itu mereka atau ex-KNIL tersebut telah merontokan 3 pesawat AURI dimana sebuah pesawatnya jatuh di tanjung merah-Girian dan menewaskan Pilotnya, 2 lainnya jatuh ke laut tetapi Pilot-pilotnya berhasil meloncat keluar pesawat dan mendarat dengan parasut dilaut, kemudian di evakuasi oleh Korvet TNI-AL. Tiap pesawat AURI yang tertembak di sertai pekik hura dari Tentara Permesta yang berada di Mapanget. Dan sejauh itu merupakan kemenangan Angkatan Darat Revolusioner-PERMESTA terhadap AURI setelah AUREV-PERMESTA praktis tidak leluasa beroperasi.

    Kembali seperti biasa AURI menyerang Mapanget dan seluruh awak kanon anti serangan Udara PERMESTA kembali menembak beruntun serempak ke Udara dari mana akan datangnya pesawat-pesawat AURI; sebut saja eks-KNIL Sersan Mayor (permesta) bermarga Pandey…Kejadian Oom Pandey ini disaksikan oleh ex-Letnan Satu (permesta) Adrie Pioh yg waktu itu masih berpangkat Sersan bertugas seabagai Komandanpada regu Browning Machine Gun .30 Cal. Yg merupakan bagian dari Kompi CTP Jimmy Boys. Pada saat AURI menyerang Mapanget Airfield hari itu posisi Adrie Pioh tak bisa lagi kembali ke bunker pertahanan karena persis sedang berada di seberang landasan Mapanget yg berbatasan dengan semak dan hutan-hutan dalam tugas menjaga perimeter keliling Landasan Udara, dan pada saat “Scramble” atau alarm serangan Udara di bunyikan, dengan tidak cukup waktu untuk berlari karena melihat Pesawat-pesawat AURI telah berada persis di Ujung landasan dalam manuver penyerangan maka Adrie Pioh hanya bisa melihat ke-sekeliling sekilas mencari posisi tiarap yg tepat dan kemudian bertiarap sambil telah mendengar desingan peluru .50 Cal dari pesawat Mustang Pemburu AURI, dan dalam posisi tiarap itu dia sempat melihat Oom Pandey(eks-KNIL) dalam posisi stand by di atas Kanon Anti Serangan Udara masih melambai tangan dan berteriak memanggil ke Adrie Pioh untuk berlari datang ke Bunker Pertahanannya,….saat krusial itu sebuah pesawat Pemburu AURI tak terlihat manuvernya oleh Oom Pandey tersebut melepas roket nya dan menerpa pinggiran posisi Kanon Anti Serangan Udara dari Oom Pandey dan membuatnya terlempar keluar,….tetapi tetap saja “Singa” tua ex-KNIL tersebut sanggup berdiri melawan ‘keadaan vertigo’ dengan tanpa kegugupan dia kembali ke posisi Kanon Anti Serangan Udara-nya dan menembak ke Pesawat-pesawat AURI, beberapa menit lamanya Pesawat-pesawat AURI bermanuver melepas roket dan tembakan dan tak lama kemudian pesawat pemburu AURI pun pergi meninggalkan wilayah Udara Mapanget. Ke-esokan harinya juga AURI kembali menyerang Mapanget saat itu Adrie Pioh tepat sementara berada bersama Oom Pandey di Bunker Pertahanan-nya, saat “Scramble” atau alarm serangan udara berbunyi Oom Pandey tersebut bergegas ke Kanon Anti Serangan Udara tetapi ada hal kecil terjadi,…Oom Pandey tersebut lupa memakai kaca mata-nya, sementara Pesawat-pesawat AURI mulai berselewiran melepas tembakan, kemudian Oom Pandey berseru ke Adrie Pioh; …hei nyong tolong ambilkan kaca mata saya, cepat…cepat! Kemudian Adrie Pioh bergegas mengambil dan memberikan kaca mata yg kaca setengahnya sudah kelihatan retak karena terhempas ke-tanah pada hari sebelumnya,…setelah itu Oom Pandey mulai menembak gencar tetapi tak berapa lama tiba-tiba berseru; …Sialan! Pesawat pemburu AURI itu terbang 1 meter diatas landasan pacu,…saya tak bisa menembaknya karena disisi seberang-nya ada Kanon Anti Serangan Udara milik kita (Permesta)!! Kurang Ajar! Mereka sudah mulai tahu bagaimana cara menghindari Kanon Anti Serangan Udara kita (Permesta).” Dan,… beberapa menit lamanya Kanon-kanon anti serangan Udara Tentara PERMESTA memberi tembakan gencar, menebar peluru seperti jala di wilayah Udara Mapanget…sampai akhirnya pesawat-pesawat AURI menghilang lagi dari wilayah Udara Mapanget. Pertahanan Udara PERMESTA di Mapanget merupakan pertahanan Udara terkuat yang diakui pernah dihadapi AURI sepanjang sejarah AURI berdiri dan terlibat diberbagai penugasan operasi udara. …Setelah itu Adrie Pioh bertanya ke Oom Pandey kenapa ikut lagi berperang padahal umur-nya sudah 50-an lebih, Oom Pandey menjelaskan; “bahwa mereka ex-KNIL ada ketentuan terikat setelah dibubarkan di Makassar tahun 1950 bahwa kalau Negara dalam S.O.B harus kembali melapor”, dan lagi sebelumnya saya telah mengungsi dari rumah di Manado ke kampung saya di Minahasa, tetapi ke esokan paginya di kampung pintu rumah saya di ketuk dan ketika saya membuka pintu saya melihat teman saya yang juga sudah lanjut usia dengan seragam KNIL-nya sebelum Perang Dunia terjadi, dan teman saya tersebut berbicara singkat bahwa dia akan pergi bertempur di pihak Permesta, karena spirit the corps dan terlebih untuk Minahasa yang akan diserbu musuh maka saya dan teman-teman lainnya yang bahkan ada lebih senior dari kami kembali mengenakan baju ex-KNIL mereka …lanjut Oom Pandey; “lagi-pula umur seperti saya mau apa lagi?…sudah melewati dua perang besar (PD I & Perang Pasifik/PD II) bersama Legiun KNIL, umur rata-rata seperti saya yg ex-KNIL hanya tinggal menunggu mati saja.”

    Dan Mapanget Airfield tidak pernah direbut oleh TNI setelahnya, melainkan pasukan dari Overstee (Permesta) W. Joseph diperintahkan untuk meninggalkan Mapanget Airfield dalam persiapan menghadapi serangan darat TNI yg sudah mendarat dari pantai KEMA.

    Beberapa eks-KNIL juga mengawaki meriam lapangan seperti meriam berkaliber 155mm meriam pertahanan pantai buatan Taiwan(ex-Jepang) yg diletak-kan digaris pantai Kota Manado, juga eks-KNIL tersebut mengawaki Recoilles Gun cal. 75 atau mortar 81 dalam memberikan tembakan bantuan kepada gerak maju Infanteri PERMESTA, atau membuyarkan serangan atau posisi musuh. Di Infanteri PERMESTA ex-KNIL terlibat juga di garis depan, sebut saja Mayor (Permesta) Sem Lepar ex-KNIL juga, jauh sebelum menjabat kepala staf brigade Pancasila/Wehrkrise III di KDP II tentara Permesta, Mayor (permesta) Sem Lepar ini pernah memimpin Kompi KMKB –Manado (Garnizun Kota) menahan gerak maju pasukan TNI dari arah Tuminting ke kota Manado, dan menjadi pasukan terakhir yang meninggalkan kota Manado sebelum Manado di kuasai Tentara Pusat.

    Ada Juga Letnan Satu (Permesta) Ander Bujung eks KNIL dengan kompinya bertempur di Tondegesan/Minahasa (Sept. 1958) melawan gerak maju TNI-KKO pimpinan Mayor(Marinir) Ali Sadikin, dan bertempur di Kapoya (1960) menahan gerak maju TNI Brawijaya Batalion 501/Mayor(TNI) Sumadi dimana Kompi Letnan Satu (Permesta) Ander Buyung kehilangan 2 orang tewas, dan yg terkenal di Kompi Letnan Satu (Permesta) Ander Bujung ini adalah Peleton dari Letnan dua(Permesta) Danni Piri dari Pelajar & Pemuda, dimana mereka pernah juga menghadang Batalion Brawijaya dari RTP-1 Amurang di daerah Popontolen-Lelema , ada juga Letnan Satu (Permesta) Tamburian eks KNIL komandan Kompi di Batalion A/Wk.III, ada Mayor (Permesta) Adolf Rumengan (eks-KNIL) Komandan Staf-3/Wk.III Brigade Pancasila, ada juga eks KNIL yg umurnya mendekati 60thn yaitu Kapten (Permesta) Iroth bertugas di Staf Wk.III/Brigade Pancasila yg di tahun 1927 di Den Haag, Holland, dia menerima penyematan langsung dari Ratu Wilhelmina penghargaan 4th Class Military Willem Orde Medal sewaktu berpangkat sersan mayor bertugas di Batalion Infanteri ke-10/KNIL , ada juga Mayor (Permesta) David Pantow seorang eks-KNIL yg melegenda bersama Batalion S & Batalion O/Pinaesaan Tentara Permesta, Mayor (Permesta) David Pantow pernah menjadi tawanan kamp interniran di Rabaul oleh Dai Nippon(Tentara Jepang), juga Wakil Perdana Menteri Pemerintahan Revolusioner-Permesta yaitu Kolonel (TNI) Joop Warouw juga seorang eks-KNIL sebelum bergabung dengan Pejuang Kemerdekaan R.I di tahun 1945 dia tergabung dalam Detachmen Zeni KNIL , Overstee (Permesta) John Ottay juga sebelum bergabung dengan Pejuang Kemerdekaan R.I di tahun 1946 dia juga seorang personil dari KNIL yg ditawan oleh Jepang di Kamp Interniran Merauke, Overstee (Permesta) Joost Wuisan juga seorang personil dari KNIL sebelum bergabung dengan pasukan Brigade XVI/TRI pimpinan Overstee (TNI) Joop Warouw, dan Panglima APREV-Permesta Mayor Jendral (Permesta) A. E Kawilarang bahkan pada saat Jepang menyerbu Hindia – Belanda di Perang Pasifik(P.D II), A. E Kawilarang pada saat itu telah selesai dari Koninklijke Militaire Academie dengan pangkat Letnan Dua KL/KNIL dan tertawan oleh jepang saat memimpin sebuah Peleton KL/KNIL bertempur di Suka Bumi dalam melawan gerak maju Jepang di tahun 1942, dan dekat Jepang mulai dikalahkan sekutu, A. E Kawilarang berhasil melarikan diri dari kamp Tawanan, kemudian ditahun 1945 bergabung dengan Pejuang Kemerdekaan R.I., A. E Kawilarang disegani pihak lawan dalam hal ini Divisi “7 Desember” Koninklijke Landmacht/Angkatan Darat Kerajaan Belanda sewaktu pangkatnya Overstee(TNI) dan memimpin Brigade 2/Divisi Siliwangi/TRI. Kolonel (Permesta) D. J Somba juga awalnya dari KNIL rekrutan 1939, masuk MILO dan kemudian PETA, setelah Jepang kalah dia bergabung dengan Brigade XVI/TRI pada perang Kemerdekaan R.I- I & II, Juga MayJen(TNI) H.V Worang termasuk seorang personil KNIL sebelum P.D-II tetapi beliau tidak dapat sempat bergabung dengan Permesta karena Batalionnya di awasi oleh Tentara Pusat (Jakarta), dan Overstee (Permesta) W. Joseph sebelum P.D II dia bertugas di perbengkelan AL Kerajaan Belanda di Surabaya sebagai mekanik, dan bergabung dengan Brigade XVI/TRI pada perang kemerdekaan R.I. Dan banyak lagi, para Bintara & Perwira dari kesatuan Tentara Permesta adalah ex-KNIL tetapi tidak dapat disebut satu persatu lagi.

    Banyak lagi kisah kisah para ex-KNIL di PERMESTA TROOPS lainnya yang menunjukan loyalitas dan profesionalitas mereka sebagai militer. Sekalipun dalam usia yang dinyatakan sudah hampir tidak memenuhi syarat di medan tempur, setidaknya ex-KNIL atau “the Oldcrack” atau tentara tua yang berpengalaman telah memberikan contoh moril dan moral dalam pertempuran bagaimana seharusnya untuk menghadapi pertempuran itu sendiri. Dengan disiplin tentara yang profesional ala’ Tentara Eropa, mereka tidak pernah melibatkan dan dilibatkan dalam bentuk apapun yang berbau politik, militer yang benar-benar bertugas untuk perang saja, dan dalam pertempuran sering kali para KNIL menghunus kelewang KNIL mereka untuk bertempur dalam jarak dekat sambil berteriak dengan lantangnya “KNIL nooit retraite!” (KNIL pantang mundur) yg adalah semboyan tempur KNIL, dan sangat tepat dengan badge atau lambang KNIL; seekor Singa Jantan yang berdiri mengaum sambil mengangkat pedang dan memegang perisai khas cakalele dengan warna keseluruhan bright orange.

    PASUKAN APREV-PERMESTA BERAWAL DARI 3 BATALION TNI YAITU 702, 714, DAN 719, KEMUDIAN DITAMBAH DENGAN MOBILISASI DAN DI BENTUK MENDADAK DIMANA SEBAGIAN BESARNYA DARI UNSUR PEMUDA & PELAJAR SEHINGGA TOTAL PERSONIL APREV-PERMESTA BERSAMA PEMERINTAHAN SIPILNYA ADALAH 42.000 PERSONIL, DIMANA 36.000 DIANTARANYA ADALAH MILITER PERMESTA DAN 27.000 DIANTARANYA BERSENJATA LENGKAP TERSEBAR DALAM BATALION-BATALION DAN BRIGADE, DAN KE-2000 EX-KNIL TERSERAP KEDALAMNYA. Sekalipun sekarang ini semua dari ex-KNIL telah berpulang(R.I.P),… tidak ada salahnya terima kasih dan penghormatan, sekalipun hanya dalam tulisan tulisan untuk disematkan kepada orang-orang tua bekas-bekas Kesatuan Baret berwarna Dark Grey ini, yang telah mendedikasikan sisa hidupnya dan mati dalam pertempuran untuk membela panji-panji PERMESTA pada perang PERMESTA 1958-1961. K.N.I.L-Koninlijke Nederland Oost Indische Leger, atau Legiun Kerajaan Hindia Timur-Belanda.

    FLASHBACK:

    DAN DALAM HAL INI RAJA WILLEM I YG MENGINSTRUKSIKAN UNTUK DIBENTUKNYA (1836) SEBUAH LEGIUN KERAJAAN KOLONI DI HINDIA TIMUR BELANDA TERINSPIRASI ATAS SUKSES DARI SEBUAH UNIT PASUKAN EKSPEDISI KSATRIA MINAHASA YG MENGUBAH ARAH PERANG JAWA(1825-1830) DENGAN MENANGKAP PANGERAN DIPENOGORO PADA MARET 1830. SELAMA LIMA TAHUN BERPERANG PERLU DIKETAHUI PANGERAN DIPENOGORO & KYAI MOJO MENGERAHKAN HAMPIR 200.000 PERSONIL MELAWAN KURANG LEBIH 11000 PERSONIL YG TERGABUNG DALAM DE INFANTERIE VAN HET NEDERLAND OOST INDISCHE TERMASUK DI DALAMNYA UNIT EKSPEDISI KSATRIA MINAHASA, PASUKAN KECIL KOLONI INI DIPIMPIN OLEH LETNAN JENDRAL HENDRIK MARKUS DE KOCK VETERAN PERANG NAPOLEON TERGABUNG DI TENTARA PRUSSIA (JERMAN) KETIKA MENGHADAPI PRANCIS, DIMANA SAAT ITU BELANDA TELAH DIANEKSASI OLEH PRANCIS(NAPOLEON), DAN RAJA WILLEM I MENERUSKAN PERLAWANAN MELAWAN PRANCIS DARI TEMPAT PENGUNGSIANNYA(1799-1815) YAITU DITANAH NENEK-NYA, NENEK-NYA SEORANG PUTRI DARI RAJA JAMES II, DARI KERAJAAN INGGRIS,… YG MENIKAH DENGAN KAKEKNYA: PRINCE WILLEM VAN ORANJE (PANGERAN WILLEM-III). SEMENTARA DI FASE PENGUNGSIAN RAJA WILLEM I KE INGGRIS 1799-1815, DI HINDIA BELANDA KHUSUSNYA MINAHASA DI TAHUN 1807-1809 TERJADI PERANG MELAWAN PEMERINTAHAN BARU HINDIA BELANDA(PRANCIS), SAAT ITU PERSENJATAAN KSATRIA MINAHASA SEBAGIAN DIDAPAT DARI KAPAL KAPAL INGGRIS YG LEWAT DIGARIS PANTAI KORA-KORA, MINAHASA DIMANA KAPAL INGGRIS INI DALAM PERJALANAN DARI AUSTRALIA KE PORT ARTHUR(HONGKONG SEKARANG), PERLU DICATAT BAHWA PRANCIS DI ERA INI ADALAH PENGUASA HINDIA BELANDA DIMANA PADA TAHUN-TAHUN INI ADALAH MERUPAKAN KEMUNDURAN PRANCIS DI LAUT, PRANCIS DI EROPA MULAI DIIMBANGI OLEH PASUKAN GABUNGAN INGGRIS, PRUSSIA(GERMAN), AUSTRIA SEKALIPUN SAAT ITU FRENCH LA GRAND ARMEE BELUM TERKALAHKAN,… UNTUK ITULAH KEBIJAKAN DARI ATAS PRANCIS UNTUK MENEKAN DAERAH KOLONI-NYA DAN KOLONI NEGARA YG DITAKLUKAN PRANCIS UNTUK MENGHASILKAN UANG DALAM MEMBIAYAI PERANG DI EROPA TERUTAMA UNTUK PERLUASAN WILAYAH, DALAM HAL INI KAISAR NAPOLEON BERENCANA AKAN MENAKLUKAN RUSIA DENGAN KEKUATAN ‘MASS ARMY’ ATAU KEKUATAN BESAR VERSI SEJARAH PRANCIS SEKITAR 680.000 PERSONIL FRENCH LA GRAND ARMEE MENYERBU RUSIA, RUSIA DIKENAL SEBAGAI NEGARA YG KAYA BAHAN TAMBANG MINERAL, DAN UNTUK MEMENUHI PEMBIAYAAN PERANG YG OFFENSIVE AKHIR-NYA KAISAR NAPOLEON BONAPARTE MENJUAL DAERAH KOLONI PRANCIS DI AMERIKA UTARA KARENA SUDAH TAK SANGGUP DIJANGKAU LAGI LEWAT LAUT KARENA ARMADA PRANCIS TELAH DI HANCURKAN INGGRIS DI PERANG LAUT TRAFALGAR, GIBRALTAR, DAN DI TELUK DANZIG. ADALAH NEGARA KOLONI LOUISIANA (DIAMBIL DARI NAMA KLAN RAJA LOUIS) DENGAN IBUKOTA-NYA NEW ORLEANS YG DIAMBIL NAMA DARI ORLEANS SEBUAH KOTA DI PRANCIS, DIKOTA ORLEANS DI TAHUN 1429 JEANE D’ ARCH SEORANG PANGLIMA WANITA KERAJAAN PRANCIS BERHASIL MENGALAHKAN TENTARA KERAJAAN INGGRIS. DAN KOLONI PRANCIS, LOUISIANA INI DI DIRIKAN OLEH SEORANG KETURUNAN BANGSAWAN PRANCIS YAITU PIERE LE MOYNE, SIEUR D’ IBERVILLE YG LAHIR DI MONTREAL, NEW FRANCE PADA 1611 (NEW FRANCE SEKARANG ADALAH KANADA) DIA PUNYA AMBISI UNTUK MENYAINGI INGGRIS DALAM MENGUASAI HINDIA BARAT ATAU AMERIKA UTARA, KARENA KESULITAN PEMBIAYAAN PERANG AKHIRNYA LOUISIANA DIJUAL KAISAR NAPOLEON BONAPARTE KE PRESIDEN THOMAS JEFFERSON ATAU PIHAK AMERIKA SE-HARGA 200,000.-USD (BELUM ADA KURS FOREIGN EX-CHANGE DI ERA INI). SELAIN TELAH MENJUAL KOLONI DI AMERIKA UTARA, PEMBIAYAAN PERANG JUGA DIDAPAT DARI KOLONI YG NEGARA INDUK-NYA TELAH DITAKLUKAN KAISAR NAPOLEON/PRANCIS, YANG MANA DI HINDIA TIMUR-BELANDA KEBIJAKAN PRANCIS AKHIRNYA MELETUPKAN PERANG DI MINAHASA ATAS PENEKANAN UNTUK HASIL-HASIL BUMI DI BELI OLEH PEMERINTAH HINDIA TIMUR-BELANDA (KEKUASAAN PRANCIS) JAUH DIBAWAH HARGA YG AKHIRNYA BEBAN EKONOMI HARUS DIPIKUL MASYARAKAT DI MINAHASA, DALAM HAL INI PEMERINTAHAN HINDIA TIMUR-BELANDA YG DIKUASAI KEBIJAKAN PRANCIS MENGABAIKAN ATAU MEMBATALKAN SE-PIHAK PERJANJIAN PERSAHABATAN, KERJA SAMA EKONOMI REGIONAL, DAN SEBAGAI SEKUTU, YG PERJANJIANNYA DIBUAT BELANDA DENGAN MINAHASA PADA VERBOND 10 JANUARI 1679. KEKUASAAN PRANCIS AKHIRNYA BERAKHIR DI HINDIA TIMUR BELANDA SETELAH ARMADA BRITISH EAST INDISH DAN TENTARA-NYA MENYERBU HINDIA TIMUR BELANDA SEJAK 1808-1811 DAN BERHASIL MENGUASAI HINDIA TIMUR BELANDA SELAMA 5 TAHUN DARI 1811-1815, SETELAH KAISAR NAPOLEON BONAPARTE DAN FRENCH LA GRAND ARMEE DI KALAHKAN DI WATERLOO 1815 MAKA SESUAI AMIENS TREATY DAN TRACTAT LONDON UNTUK KETENTUAN PENYELESAIAN PERANG NAPOLEON; HINDIA TIMUR-BELANDA DIKEMBALIKAN KE BELANDA, DIMANA BOLEH DIKATAKAN HINDIA TIMUR-BELANDA TELAH DIRUSAK EKONOMINYA SEMASA PRANCIS BERKUASA. DAN PERANG DI MINAHASA 1807-1809 BUKANLAH PERANG KEMERDEKAAN ATAS SEBUAH PENJAJAHAN, TETAPI PERANG UNTUK MEMPERTAHANKAN KEDAULATAN TERITORI BANGSA MINAHASA ATAS HAK KESETARAAN BER-INTERAKSI, BAIK SECARA EKONOMI MAUPUN KERJASAMA REGIONAL LAINNYA DAN DALAM HAL INI BELANDA YG MEMBUAT PERJANJIAN VERBOND 10 JANUARI 1979 SECARA TAK LANGSUNG MENGAKUI ADANYA TERITORI MINAHASA YG BERDAULAT DAN BUKAN SEBAGAI KOLONI,… SEKALIPUN LETAK MINAHASA BERADA DALAM SATU GUGUSAN KEPULAUAN HINDIA TIMUR-BELANDA , TETAPI PRANCIS MENGABAIKAN HUBUNGAN-HUBUNGAN MINAHASA-BELANDA SAAT MENGUASAI HINDIA TIMUR-BELANDA. AKHIRNYA ARMADA BRITISH EAST INDISH DATANG TIBA DI WILAYAH SEKUTUNYA (MINAHASA), SEBAB PERLAWANAN KSATRIA MINAHASA TELAH BERAKHIR DIBULAN AGUSTUS 1809 SEMENTARA ARMADA BRITISH EAST INDISH TIBA DI TELUK MANADO BULAN APRIL 1811 DAN MENGULTIMATUM FORT AMSTERDAM YG DIKUASAI BELANDA/PRANCIS UNTUK MENYERAH ATAU DIBUAT RATA DENGAN TANAH. INGGRIS MENYERBU HINDIA TIMUR-BELANDA DAPAT DITELUSURI PADA BUKU THE CONQUEST OF THE DUTCH INDISH YG DITULIS DARI LOG. BOOK KAPTEN KAPTEN KAPAL ANGKATAN LAUT INGGRIS PADA SAAT ITU YG TERGABUNG DALAM ARMADA BRITISH EAST INDISH, PADA PERANG INI SAMPAI SAMPAI ANAK BERUSIA 12-14 TAHUN DIREKRUT MENJADI ANGKATAN LAUT KERAJAAN INGGRIS KARENA DI INGGRIS SENDIRI ORANG DEWASA SAAT ITU SUDAH MASUK INFANTERI DAN BERPERANG DIPALAGAN EROPA MELAWAN KAISAR FENOMENA NAPOLEON BONAPARTE DAN FRENCH LA GRAND ARMEE. TENTARA INGGRIS SEWAKTU MENAKLUKAN HINDIA TIMUR-BELANDA KEBANYAKAN MEREKA TEWAS SAAT MENYERBU SEMARANG DAN SURABAYA, SEHINGGA MEMBUTUHKAN WAKTU UNTUK MENG-REORGANISIR PERSONIL DAN MELANJUTKAN PERANG DI KOLONI KEPULAUAN HINDIA TIMUR-BELANDA SAMPAI AKHIRNYA EKSPEDISI ARMADA LAUT & TENTARA DARI BRITISH EAST INDISH YANG BERMARKAS DI INDIA DAN SINGAPURA INI TIBA DI TELUK MANADO BULAN APRIL 1811 DAN MENGAMBIL ALIH FORT AMSTERDAM DI WENANG, MANADO, DAN SEKALIGUS RESMI MENGKLAIM SELURUH TERITORI DARI HINDIA TIMUR-BELANDA BESERTA TERITORI SAHABAT BELANDA(BUKAN KOLONI) DALAM HAL INI MINAHASA TELAH DIREBUT DARI KEKUASAAN PRANCIS. PERSEKUTUAN INGGRIS-MINAHASA TELAH DILAKUKAN PADA PERJANJIAN 14 SEPETEMBER 1810, DIMANA TETAP MENGAKUI PERJANJIAN BELANDA-MINAHASA, BAIK DALAM VERBOND 10 JANUARI 1679 MAUPUN PASAL REVISI VERDRAGG 10 SEPETEMBER 1699.

    DAN K.N.I.L JIKA SAJA MASIH EKSIS SAMPAI SAAT INI MEREKA DAPAT DI SEJAJARKAN DENGAN FRENCH FOREIGN LEGION ATAU GURKHA REGIMENT. GURKHA SENDIRI TADINYA AKAN DI BUBARKAN DITAHUN 1997 SE-IRING DIKEMBALIKANNYA HONGKONG KE-CHINA, JUGA KARENA KEBANYAKAN KOLONI BRITISH EMPIRE TELAH MENJADI NEGARA SENDIRI MAKA INGGRIS BERENCANA AKAN MEMBUBARKAN JUGA TENTARA KOLONI INI SETELAH DIBENTUK PERTAMA KALI DITAHUN 1813 DI INDIA, TETAPI LEWAT PERJUANGAN BEBERAPA VETERAN-VETERAN TENTARA KERAJAAN INGGRIS YG PERNAH BERTEMPUR BERSAMA GURKHA REGIMENT YG MENGUSULKAN UNTUK SUPAYA GURKHA TIDAK DIBUBARKAN BEGITU SAJA, DAN AKHIRNYA LEWAT KAJIAN DAN PERTIMBANGAN SEJARAH DARI RATU ELIZABETH II ATAS PENGABDIAN GURKHA REGIMENT, DI TAHUN 2000 SECARA RESMI RATU ELIZABETH II MENETAPKAN TENTARA GURKHA DIJADIKAN BAGIAN DALAM ANGKATAN BERSENJATA KERAJAAN INGGRIS DENGAN PREDIKAT; THE ROYAL BRIGADE OF GURKHA , DAN KOMPI PEREKRUTAN TETAP BERTUGAS DI KATHMANDU, NEPAL, BATALION 3 BERTUGAS DI BRUNEI DARUSSALAM, BATALION 2 BERTUGAS DI PORT MORESBY, PAPUA NEW GUINEA, DAN BATALION 1 BERTUGAS DI LONDON MENJAGA TAHTA DARI UNITED KINGDOM. LAMBANG K.N.I.L KONON TERINSPIRASI DARI KSATRIA MINAHASA YG DALAM PERTEMPURAN MENGHUNUS PEDANG SAMBIL BERSERU ‘I JAJAT U SANTI.’ DAN PEMAKAI TERAKHIR LAMBANG INI ADALAH GUARDS BATALION DUTCH ANTILLES PROVINSI (PERSEMAKMURAN) KE-11 KERAJAAN BELANDA, SETELAH DUTCH ANTILLES RESMI MENJADI NEGARA TERLEPAS DARI BELANDA DI TAHUN 1979, MAKA DITAHUN YG SAMA 1979 KNIL TERAKHIR RESMI DIBUBARKAN DI DUTCH ANTILLES NEGARA PULAU DI KARIBIA, SAMUDERA ATLANTIK. “SINGA YG LAHIR DI HINDIA TIMUR DI TAHUN 1836 AKHIRNYA DIBUBARKAN DI HINDIA BARAT DI TAHUN 1979 SELARAS DENGAN ARAH TERBIT DAN TERBENAMNYA MATAHARI (HINDIA BARAT SEBUTAN BENUA AMERIKA DI ERA KOLONIAL)”. SEMENTARA MARECHAUSSE TETAP BERDIRI SAMPAI SAAT INI SETELAH PERTAMA KALI DIDIRIKAN OLEH RAJA WILLEM I DENGAN NAMA AWAL ‘GENDAR MARJIE’ PADA AWAL PERANG NAPOLEON UNTUK MELAWAN PRANCIS, DAN DIKARENAKAN HAMPIR HABIS PERSONELNYA DALAM SEBUAH PERTEMPURAN SEKITAR 70.000 TEWAS MAKA DI RE-ORGANISIR KEMBALI DENGAN NAMA MARECHAUSSE, DAN OLEH RATU KERAJAAN BELANDA RATU BEATRIX MAKA RESMI DITETAPKAN MARECHAUSSE SEBAGAI PASUKAN PENGAWAL KERAJAAN DENGAN LABEL KONINKLIJKE DE MARECHAUSSE. KE-DUA SATUAN INI BAIK K.N.I.L DAN MARECHAUSSE PERNAH MENCATATKAN KSATRIA-KSATRIA MINAHASA YANG BERGABUNG KE DALAMNYA DALAM PENGHARGAAN YANG MEREKA DAPAT DARI MEDAN TEMPUR BERUPA MEDALI TERTINGGI KERAJAAN BELANDA-MILITARY WILLEM ORDE MEDAL.

    “BUKAN BALA TENTARA YG BESAR YG MEMENANGI PERTEMPURAN, NAMUN YANG BERMUTU.” FILOSOFI INI DITULIS OLEH MARSHALL GENERAL HERMAN MAURICE SAXE (1669-1750), YANG TERINSPIRASI DARI MODEL TENTARA RAJA FREDERICK YANG AGUNG (1712-1786) DARI PRUSSIA (PROZEN), GERMAN. DAN K.N.I.L SERTA AKADEMI MILITER KERAJAAN BELANDA ATAU K.M.A DI BREDA DAN K.M.A DI BANDUNG SEMASA HINDIA BELANDA JUGA SEDIKITNYA MENGIKUTI MODEL DARI TENTARA PROZEN, GERMAN. DAN SOAL MUTU TIDAK USAH DIPERTANYAKAN LAGI KARENA SEJARAH PERANG KEMERDEKAAN R.I (1945-1949) PARA K.N.I.L ATAU K.L YG BERGABUNG DI TRI(TNI SEKARANG) MEMBERIKAN BUKTI DI MEDAN TEMPUR SEBAGAI LAWAN CUKUP SEPADAN KEPADA BELANDA YG KEMBALI SETELAH PERANG DUNIA KE-II UNTUK MENGUASAI HINDIA BELANDA,…SEDIKIT CONTOH KONGKRITNYA ADALAH OVERSTEE (TNI) JOOP WAROUW BEKAS PERSONIL DETACHEMEN ZENI K.N.I.L YG TERLIBAT LANGSUNG PERISTIWA HEROIK DI SURABAYA PADA 10 NOVEMBER 1945 DAN KEMUDIAN MEMIMPIN BRIGADE XVI/TRI DI JAWA TIMUR DALAM MELAWAN BELANDA DAN KOLONEL (TNI) A. E KAWILARANG YG BEKAS PERWIRA KL/KNIL TAMAT DARI K.M.A BANDUNG, MEMIMPIN BRIGADE 2/DIVISI SILIWANGI DAN MENJADI PANGLIMA TT-1/BUKIT BARISAN SAAT MELAWAN BELANDA BAIK DI JAWA BARAT MAUPUN DI SUMATRA, DAN BANYAK LAGI SELAIN MEREKA TERSEBUT, BANYAK ORANG-ORANG MINAHASA YG PERNAH MENGENYAM TEMPAAN DI LEGIUN K.N.I.L MAUPUN DI K.L (ANGKATAN DARAT KERAJAAN) SEBELUM MEREKA, DAN DAPAT DIKATAKAN BAHWA MILITER GAYA EROPA BESERTA SISTEM PENDIDIKANNYA SANGAT BAIK BAGI ORANG-ORANG MINAHASA, SEBAB 4 HAL YG PENTING:… MENTAL, OTAK, DISIPLIN DAN SPIRIT YG DIHASILKAN DARI SEBUAH SISTEM MILITER ATAU-PUN SIPIL YG SUDAH TERBUKTI RATUSAN TAHUN SEBELUMNYA…, SETIDAKNYA ITU DAPAT MENENTUKAN KUALITAS GENERASI SEBUAH BANGSA. K.N.I.L TERLEPAS DARI TUGASNYA DALAM MENDUKUNG EKSISTENSI SEBUAH SISTEM IMPERIUM ATAU KOLONIAL TIDAK PERLU DIANGGAP SEBUAH HAL DARI MASA LALU YG TERLARANG UNTUK DIBICARAKAN, HARUS DIAMBIL SISI LAINNYA YG BISA DIJADIKAN PATRON UNTUK SEBUAH KEBAIKAN GENERASI MENDATANG, SEBAB SEJARAH TAK SELALU HARUS DITUTUP SELURUHNYA, …SEBAB BAGAIMANAPUN SEJARAH ADALAH PENCAPAIAN HARI INI DAN TUMPUAN HARI DEPAN.

    “Dipersembahkan untuk seluruh Ksatria Minahasa dari masa ke-masa.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: