Posted by: admin | October 21, 2010

(1946.v3) Peristiwa Merah-Putih di Manado

Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946(3)

PERISTIWA Merah Putih 14 Februari 1946 merupakan salah satu mata rantai peristiwa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945, yang telah terjadi di beberapa tempat dalam lingkungan wilayah Indonesia, antara lain: (1). Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, (2). Palagan Ambarawa di Jawa Tengah, Desember 1945, (3). Pertempuran Medan Area di Sumatera, Desember 1945, dan (4). Bandung Lautan Api di Jawa Barat, Maret 1946, satu bulan sesudah Peristiwa Merah Putih di Manado 14 Februari 1946.

15-16 Februari:
= Pembentukan Tentara Re-publik Indonesia Sulawesi Uta-ra (TRISU) dan pengesahan Ko-mando Militer tertinggi tentara tersebut dbp Letkol Ch Ch Tau-lu.
= Pengesahan pembentukan Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) sebagai organisasi Para-Militer pembantu TRISU.
= Pengesahan pembentukan Pemerintahan Sipil ‘Merah Pu-tih’ di bawah pimpinan B W La-pian, waktu itu sebagai Kepala Distrik Manado dan ex-Anggota Volks Raad (Dewan Perwakilan Rakyat Hindia Belanda).
22 Februari:
= Proklamasi Penggabungan Wilayah ex-Keresidenan Mana-do dengan Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta.
24 Februari:
= Perundingan segi tiga Wakil Sekutu, Belanda dan Indonesia di atas kapal perang Sekutu, El Libertador di pelabuhan Mana-do.
25 Februari:
= Referendum di kalangan anggota KNIL di Tangsi Teling Manado yang menghasilkan pernyataan dukungan terhadap Pimpinan TRISU.
= Kongres Rakyat di Tomohon yang memutuskan menolak tuntutan/ultimatum Tentara Sekutu yang disampaikan seha-ri sebelumnya di kapal El Liber-tador.
26 Februari:
=Pengungsian seluruh warga Belanda termasuk Pimpinan Militer dan Pemerintahan Sipil NICA yang pernah ditahan/dita-wan sebelumnya, dengan meng-gunakan kapal El Libertador ke Morotai, Maluku Utara.
10 Maret:
= Timbul aksi lawan dari sebagian anggota KNIL/TRISU yang berkhianat atas kepemimpinan Ch Ch Taulu dan mengalihkan pimpinan kepada Kapten Kaseger, purnawirawan KNIL yang pernah mendapat tawaran memimpin TRISU tetapi menolak dengan alasan ia terikat “Sumpah Setia Perwira” kepada Ratu Belanda (Wilhelmina).
11 Maret:
= Sesudah peralihan kepemimpinan tentara kepada Kapten Kaseger maka Pemerintahan NICA dipulihkan kembali dengan dukungan satu batalion tentara Belanda yang didatangkan khusus dari Negeri Belanda dan didaratkan dengan kapal perang ‘Piet Hein’ di pelabuhan Manado.
= Kisah Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 berakhir de-ngan penangkapan dan pena-hanan para pemimpin TRISU, Pemerintah Sipil Merah Putih dan PPI, kemudian mereka dijatuhi hukuman penjara yang di-jalankan di Manado, Morotai dan Jakarta. Namun pengorbanan mereka tidaklah sia-sia, karena peristiwa tersebut telah menyemangati perjuangan poli-tik dan perlawanan rakyat selanjutnya di Sulawesi Utara.
Penghargaan Pemerintah RI.
Peristiwa Merah Putih 14 Pe-bruari 1946 sebagai fakta bukti perjuangan merebut dan mem-pertahankan kemerdekaan yang terjadi di Sulawesi Utara, telah diakui oleh Pemerintah RI berupa tanggapan dari: 1. Presiden RI pertama, Ir Sokarno, yang sejak semula yakni beberapa hari sesudah Peris-tiwa Merah Putih terjadi, te-lah memberikan dukungan melalui berita radio yang diki-rim dari Yogyakarta.
Dan 19 tahun kemudian, da-lam suatu peringatan Peris-tiwa Merah Putih yang diada-kan di Istana Negara Jakarta pada tanggal 14 Februari 1965, beliau telah mengimbau agar tanggal 14 Februari dapat dicanangkan sebagai “Hari Su-lawesi Utara” dan wajib diperingati atau dirayakan setiap tahun.
2. Presiden RI kedua, Soe-harto, dalam pidato pada upa-cara Apel Besar Pramuka di Cibubur (Bogor) pada tanggal 14 Agustus 1984, telah merangkaikan “Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946” da-lam deretan aksi-aksi Perang Kemerdekaan yang penting selama masa Revolusi Fisik (1945-1950) berupa “Peristiwa Kepahlawanan di Sulawesi Utara”.
Dan akhirnya para pelaku “Peistiwa Merah Putih 14 Fe-bruari 1946” telah dianugerahi Bintang Gerilya dan tanda-tanda jasa lainnya oleh Pemerintah, serta jazad mereka yang telah gugur maupun yang telah wafat mendapat kehormatan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Manado dan Jakarta.

(Disadur oleh C Kowaas dari buku dengan judul yang sama, Penerbit Korps Pembangunan Merah Putih 14 Februari 1946 Dewan Harian Khusus DKI Jakarta, Disusun oleh Dewan Redaksi Dan Tim Penulis KPMP).

Ref: http://www.hariankomentar.com/arsip/arsip_2007/feb_16/lkOpin001.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: