Posted by: admin | April 19, 2011

The Black Angels

Sekilas;

AUREV – Angkatan Udara Revolusioner-Permesta dengan kepala staff Komodor (AUREV) Petit Muharto. dan Kapten (AUREV) Hadi Supandi(**) sebagai komandan skuadron pemburu taktis. AUREV sendiri kebanyakan mereka adalah penerbang asing atau Soldier of Fortune (sewaan) , selama dua bulan sebelum Jatuhnya Pilot-Kapten (AUREV) Allan Pope dan Navigatornya Letnan (AUREV) J. Harry Rantung di wilayah udara Maluku/Ambon. AUREV telah menunjukkan supremasi udara di seuruh kawasan Indonesia Timur dan Kalimantan (Borneo) dan Allan Pope pilot veteran American Volunteer Group (AVG)-China Nationalist Figther pilot pada perang pasifik melawan Jepang tercatat paling banyak melakukan serangan ke target2 pemerintah pusat, diantaranya lapangan udara, kapal-kapal AL, dan target penting lainnya yg dapat digunakan TNI untuk menyerang posisi Permesta, tercatat ada KRI Hang Tuah yg terbelah dua tenggelam dan krunya tidak ada yg selamat di hajar pope di depan teluk balikpapan, dan ada kapal angkut militer yang bernasib yg sama setelah menurunkan Batalion 501/brawijaya di donggala, amunisi mereka tidak sempat diturunkan, dan kapal mereka bagaikan kembang api karnaval meledak hebat setelah bom dari pesawat Pope mengenainya, lapangan udara TNI-AU di sulsel, kendari, samarinda, kaltim, ambon tiap hari TNI menambal lubang karena Bom, hari berikutnya AUREV melubanginya kembali, kapal angkut perbekalan, semuanya tidak luput dari AUREV termasuk kilang minyak Shell-dutch company di Balikpapan ikut di bumihanguskan oleh AUREV, diudara tercatat pilot pemburu AURI berusaha menghadang tetapi apa daya dengan terbatasnya pesawat, salah satu cerita klasik adalah duel udara kapten (AURI) Ignatius Dewanto dengan kapten (AUREV) Hadi Supandi yang nota bene adalah AURI juga, dewanto dan hadi supandi sama sama melepas semua roket dan peluru sampai habis tetapi tidak saling menjatuhkan tetapi setelah dewanto mendarat terdapat dua lubang peluru menyerempat badan pesawatnya dan sekaligus dewanto kagum akan keberanian dari bekas rekan sejawatnya ( secara tidak langsung dewanto kalah ).

Pada saat Padang dan Bukittinggi (PRRI) diserbu pemerintah pusat, permesta segera membuat misi bantuan lewat AUREV, Seorang pilot AUREV berkebangsaan Polandia(*) ditugaskan dengan pesawat B-26 Invader (pembom taktis) untuk membom lapangan udara Padang yg telah dikuasai TNI, tapi pilot Polandia tersebut pada saat tinggal landas pada posisi terakhir sebelum mengangkat tuas kemudi (take off) pesawatnya meledak di atas landasan dan menewaskan Pilot dan Navigatornya.

Penerbang Asing AUREV lainya dari grup pemburu P-51D “Mustang” kebanyakan pilot berkebangsaan philipina sebut saja kapten (AUREV) Tony Moreno yg jagoan akrobatik udara, dia dan pilot pemburu lainnya hanya dapat dikenal lewat gaya mereka; dengan kaos oblong putih ketat, ikat pinggang kulit plus blue jeans, jaket kulit coklat tua, dan helm penerbang serta kaca mata hitam, dan kalung sianida seperti kepada pilot AUREV asing lainnya.

Tertembak jatuh dan ditangkapnya Allan Pope dan Harry Rantung menjadi hari terakhir dominasi AUREV, sebenarnya Allan Pope dapat menghilangkan jejak,…karena instruksi untuk penerbang asing AUREV jika jatuh diwilayah musuh dan tidak dapat melarikan diri harus menelan pil Sianida yang dikalungkan dileher masing2 pilot Asing jika bertugas, dan menyemprotkan cat hitam kemuka mereka untuk tidak dapat dikenali, dan seluruh penerbang AUREV asing tidak boleh membawa pengenal secuil-pun. Tapi pope tidak melakukan hal tersebut alasannya sekalipun kakinya patah dia masih boleh melarikan diri.

Tercatat dari grup penerbang intai AUREV dan penerbang angkut perbekalan kebanyakan di awaki kebangsaan China-Taiwan. Sementara para Navigator-navigator B 26 Invader AUREV di awaki oleh orang2 Minahasa.

Disamping mereka ada beberapa penasihat militer udara; kolonel-kolonel AU dari Amerika, Korsel, Taiwan, dan Philipin, kesemuanya mereka bertugas dan dibayar oleh rekening Permesta.

AUREV dikenal di Udara lewat pesawat yg bercat hitam pekat dengan tulisan putih AUREV, menjadi momok selama dua bulan diwilayah udara Indonesia Timur bagi siapapun yg menantangnya…bagaikan MALAIKAT-MALAIKAT HITAM,.. AUREV menghajar setiap perlawanan dari Pemerintah Pusat.

Pilot-pilot resmi yg pernah terbang atas nama AUREV yg merupakan “soldier of fortune” diantaranya ; Allan Pope, Cecil Cartwright, Conie Sigfriest, Rex, dll

(*) Pilot Polandia ini jebolan RAF (Brittish Royal Air Force) Veteran PD II melawan Luftwaffe (AU Jerman), di aneksasinya Polandia oleh Uni Soviet, dan kesulitan keuangan untuk membiaya keluarganya, akhirnya dia menerima tawaran sebagai pilot bayaran di Timur Jauh, di Minahasa bersama AUREV, jasadnya diterbangkan ke-Bangkok kemudian Afrika Selatan baru ke Polandia untuk kamuflase. Keluarganya menerima santunan atas beban rekening Permesta.

(**)Hadi Supandi menerbangkan P-51D “Mustang”-nya ke Singapura entah kenapa dan kemudian menghilang pergi ke-eropa, hanya ada pemberitahuan singkat dia pergi tetapi tidak akan pernah bergabung dengan AURI. (masalah pribadi)

Tidak ada yang dapat dianugerahkan kepada para penerbang-penerbang asing AUREV selain terima kasih atas bantuannya, sejelek apa-pun sumbangsih tetap itu merupakan simpati, dan Permesta tetap akan mengenangnya.

Skuadron pemburu AUREV lebih banyak berpangkalan dipulau di selatan Philipina, dan mengusir pesawat pemburu AURI yg datang mendekat ke wilayah udara AUREV serta bertugas untuk menyerang kapal-kapal pemerintah pusat yg mendekat ke garis pantai Sulawesi Utara dan Tengah, dan hanya Hadi Supandi dan Conie Sigfriest yg pesawat pemburu P-51 D “Mustang,” mereka tetap diparkir di Mapanget, untuk pengawalan B-26 “Invader” AUREV kalau terbang melakukan misi penyerangan/pemboman, atau sebagai firts interceptor kalau ada pesawat AURI mendekat ke-wilayah Udara SULUTTENG dan perairan laut Sulawesi.

Skuadron pemburu AUREV tercatat hebat dalam duel udara selain cerita Hadi Supandi vs Dewanto, para penerbang philipin ini juga beberapa kali mencegat pemburu AURI dan kebanyakan tidak beberapa lama berduel pemburu-pemburu AURI lebih memilih hengkang daripada menghadapi pemburu AUREV yg bercat hitam pekat ini dan bergambar gigi hiu pada moncongnya serta tulisan putih AUREV pada badan pesawat.

Sementara pesawat-pesawat angkut perbekalan AUREV atau beach craft yang di awaki pilot-pilot China-Taiwan lebih banyak berpangkalan di Kalawiran, Minahasa.

Tertembak jatuhnya Kapten (AUREV) Allan Pope & Letnan (AUREV) J. Harry Rantung, menyebabkan ditariknya seluruh pilot-pilot asing (Soldier of Fortune) dari AUREV. Rencana menyerbu balik ke Jakarta oleh Pasukan Permesta menjadi rencana diatas kertas saja, padahal persiapan di lapangan Udara Morotai kep. Halmahera telah rampung dan siap digunakan oleh 2 Pesawat Pembom AUREV type B-29 Stratosfer-pembom jarak jauh yang sanggup pulang pergi morotai – Jakarta, akhirnya kedua pesawat AUREV B-29 tersebut tidak jadi didatangkan.

Allan Pope akhirnya bebas dari hukuman mati setelah negosiasi tingkat tinggi antara negara, dan sebagai gantinya rekening Permesta harus membayar ongkos pertukaran tersebut, dengan dibangun-nya Jalan By pass Cawang-Tanjung Priok, dan Hotel Indonesia (lama) diBundaran H.I/Thamrin.

Harry Rantung dipenjara dan disiksa selama masa tahanan, kemudian bebas setelah orde baru tetapi bagian dalam tubuhnya mengalami cacat-permanen akibat siksaan para Polisi Militer dirumah tahanan.

Misi-misi penerbangan dari Allan Pope dan Harry Rantung selama bertugas di AUREV, tercatat sebagai pilot2 yang paling banyak menimbulkan kerugian bagi TNI/Pemerintah Pusat.

Kawat Pemberitahuan hasil penglihatan Kapten(AUREV) Allan Pope dari pesawatnya pembom taktis B-26 Invader, setelah dia menyerang Ambon, melihat adanya iring-iringan kapal Pasukan Pendarat TNI yang sedang konsolidasi di Amahai untuk mendarat di garis pantai Minahasa tidak mendapat otorisasi dengan segera mengirimkan kekuatan penuh AUREV, berakibat pope mengambil inisiatif menyerangnya sendiri dan akhirnya tertembak jatuh, sementara kawat yang diterima di markas AUREV tidak ditindak lanjuti dengan alasan petinggi Permesta mempunyai strategi untuk menghadapi TNI didaratan Minahasa, maka seorang penasihat asing berpangkat Kolonel pun berujar ” What’s going on? ..this is a Halfheart War!! ”

Tertangkapnya Kapten (AUREV) Allan Pope dan Letnan (AUREV) Jan Harry Rantung berakibat 3 kali kawat pemberitahuan untuk seluruh personil Pilot Bayaran AUREV harus keluar dari wilayah Permesta, dimana para Pilot-pilot tersebut masih tidak percaya untuk mereka diperintahkan mengakhiri misi mereka, dan kawat terakhir dengan jelas memerintahkan operasi mereka harus ditutup,..sign Allan Dulles (Director of C.I.A)!. Dengan protes pilot-pilot itupun keluar dari Mapanget sambil membalas kawat dengan kata-kata ” what the hell with them without air cover?..Damn…e.t.c!!”

Dari berbagai sumber luar dan dalam negeri.

Source from here http://www.facebook.com/board.php?uid=37116264213#!/topic.php?uid=37116264213&topic=11763


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: