Posted by: admin | April 21, 2011

A.E. Kawilarang Bersih: Pernah Menempeleng Soeharto (gosip)

Saya sangat senang jika masih ada saksi hidup yang melihat atau mendengar langsung dari Bpk.Alex Kawilarang bahwa ia pernah menempeleng Bpk.Suharto.
Tetapi yang saya ingat dari keterangan Bapak.Alex Kawilarang sendiri pada suatu acara Ulang Tahun Beliau,kalau saya tidak salah, tgl.23 February 1998, atau tahun sesudahnya, beliau pernah membantah hal itu pada waktu saya bertanya kepadanya, dan mengatakan bahwa dia menegur Bpk.Suharto waktu itu sebab ada anak buahnya yang berbuat tindakan yang se-mena2 di Makasar dan memuat barang2 milik masyarakat Makasar ke kapal yang akan pulang ke Jawa. Dan karena persoalan ini, Pak Suharto menjatuhkan kesalahan kepada seorang Perwira Komando Pelabuhan Makasar yang bertanggung jawab tentang pengawasan pemuatan barang2 di Pelabuhan Makasar waktu itu. Dan Perwira inilah yang mendapat tamparan dari Bapak Suharto bukan Bapak Alex Kawilarang yang menampar Bapak Suharto. Hal ini tidak pernah terjadi.
Perwira ini langsung meminta berhenti dari TNI-AD dan meletakkan Jabatannya dan kemudian meminta Bea Siswa untuk meneruskan Pendidikannya di Belanda.
Perwira ini kemudian kembali dari Belanda dengan gelar Doctorandus di bidang Perpajakan dan Cukai dan kemudian menjadi Konsultan Managemen Keuangan di Indonesia. Pada Periode 1957 sd 1958 (Permesta) dia diminta oleh Letkol Pieters untuk menjadi Administrator Management di Gubernur Militer Maluku. Pada periode PRRI dia kembali ke Jakarta dan berusaha sendiri sebagai Konsultan dan Pengajar Management serta Kewiraswastaan yang terkenal sampai Tahun Delapanpuluhan, atau mungkin juga sesudahnya. Beliau sangat terkenal dibidangnya ini.
@Frederick Ruata.
🙂

A.E. Kawilarang Bersih: Pernah Menempeleng Soeharto

Oleh Sjahrir, 07-06-2000

Alex Evert Kawilarang perwira yang pernah menempeleng wajah Soeharto meninggal dunia, Selasa 6/6 lalu. Ia salah seorang perwira Angkatan 45 yang tergolong bersih dan tidak pernah mendukung rejim Soeharto. Menurut seorang tokoh pemuda 45,Des Alwi, Kawilarang adalah seorang tentara asli yang jujur dan tidak main politik.

Kolonel (Purn.) Alex E Kawilarang, meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Selama Soeharto berkuasa berkali-kali Alex mendesak Pepabri untuk mengeritik Soeharto tetapi Pepabri yang sudah dikuasai para kaki tangan Soeharto tetap saja mendukung kebijakan “bapak pembangunan” ini.

Sesepuh Kopassus ini meninggal dalam usia 80 tahun akibat komplikasi beberapa penyakit. Hingga Rabu malam, suasana di rumah duka, Jalan Situbondo No.8, Menteng, Jakarta Pusat, masih dipenuhi para pelayat. Beberapa pejabat yang tampak hadir di rumah duka antara lain: Danjen Kopassus, Mayjen Syahrir MS; Mantan Gubernur DKI, Ali Sadikin dan Menhub Agum Gumelar. Dari kalangan politisi nampak Ketua DPA Achmad Tirtosudiro, Arnold Baramuli, Sabam Sirait dan Des Alwi.

Yang menarik ialah kehadiran para mantan perwira pasukan Permesta yang sejak tengah malam berada di rumah duka. Sabam Sirait tokoh PDI Perjuangan menceriterakan kenangan menariknya bersama Almarhum. Sabam menuturkan bahwa waktu hari ulang tahun Kopassus, ketika Prabowo Subianto menjabat Danjen Kopassus saat itu lupa mengucapkan terima kasih kepada Alex. Padahal Prabowo sudah sempat memuji-muji perwira-perwira senior lainnya. Sabam yang mengingatkan Prabowo bahwa Kawilaranglah yang mendirikan KKAD atau RPKAD. Lalu Prabowo kembali naik mimbar dan mengucapkan terima kasih yang ditujukan kepada Alex.

Tetapi, lanjut Sabam, Alex mengatakan padanya bahwa “saya tidak perlu ucapan terima kasih dari perwira-perwira rejim ini.” Desember lalu dalam suatu percakapan dengan Radio Nederland Kawilarang yang secara akrab biasanya disapa dengan Bung Lex, mengatakan:”Ketika Wiranto masih menjabat Panglima TNI saya pernah mengatakan, melihat sepak terjang TNI selama Orde Baru saya kira sebaiknya TNI dibubarkan saja.

Tetapi Wiranto tidak bereaksi,” kata Kawilarang. Perwira profesional ini beranggapan, yang paling tepat memimpin TNI saat ini adalah Agus Wijoyo. Ia selain professional juga tidak berpihak pada kelompok kelompok politik saat ini.

Kawilarang sendiri pada 1958 pernah diangkat sebagai Panglima Besar Angkatan Perang Permesta ketika daerah-daerah bergolak memperjuangkan otonomi yang luas. Pada 1961, 30.000 tentara Permesta di Sulawesi Utara keluar dari hutan-hutan setelah Kawilarang melakukan perundingan dengan Abdul Haris Nasution yang ketika itu menjabat sebagai KSAD. Mereka sepakat untuk bersama-sama menghadapi kekuatan komunis di ulau Jawa. Tetapi belakangan Kawilarang kecewa pada Nasution yang tidak menepati janjinya. Sejumlah perwira Permesta ditahan dan yang lainnya diturunkan pangkat. Ribuan pasukan Permesta setiba mereka di pulau Jawa dilucuti dan dimasukkan ke kamp-kamp konsentrasi. Sebagian lagi dikirim ke perbatasan Kalimantan Utara dan berperang melawan tentara Inggris Ghurka.

Almarhum Kawilarang memulai karirnya pada 1945 sebagai perwira penghubung dengan Pasukan Inggris di Jakarta . Ia pernah menjadi Komandan Resimen Infanteri Bogor, kemudian pada 1946 menjadi Komandan Brigade II Sukabumi. Pada 1948, Kawilarang menjabat sebagai Komandan Brigade I/Siliwangi di Yogyakarta.

Pada 1949 ia menjadi Komandan Teritorium Sumatera Utara, lalu menjabat Panglima Tentara dan Teritorium I hingga 1950. Pada 1951, ia menjabat Panglima TT VII/Indonesia Timur dan pada November tahun yang sama menjadi Panglima TT III/Siliwangi. Alex Kawilarang pernah disorot pers ibukota pada tahun limapuluhan.

Ketika itu secara mengejutkan Alex menangkap Menlu Roeslan Abdulgani di lapangan terbang Kemayoran dengan tuduhan korupsi. Roeslan ketika itu bersiap-siap untuk berangkat ke luar negeri. Belakangan Presiden Soekarno meminta Panglima Siliwangi ini membebaskan kembali Menlunya itu. Langkah Alex yang lain yang sulit dilupakan masyarakat politik pada limapuluhan ialah ketika ia menempeleng Soeharto di Makassar. Alex Kawilarang marah karena selaku Panglima Wirabuana ia baru melaporkan kepada Presiden Soekarno bahwa keadaan di Makassar sudah aman.

Tetapi Soekarno menyodorkan radiogram yang baru diterimanya bahwa pasukan KNIL Belanda sudah menduduki Makassar. Ternyata pasukan yang harus mempertahankan kota Makassar yaitu Brigade Mataram telah melarikan diri ke lapangan udara Mandai. Maka tidaklah mengherankan bahwa Alex menjadi marah dan buru-buru kembali ke Makassar. Setibanya di lapangan udara ia langsung memarahi komandan Brigade Mataram Letkol Soeharto: “sirkus apa-apaan nih?” kata Kawilarang sambil menempeleng Soeharto.

Maka dapatlah dimengerti, akibat peristiwa tersebut, hingga saat Kawilarang meninggal, Soeharto tidak pernah berbicara dengan bekas atasannya itu. Penghargaan kepada A.E. Kawilarang secara resmi baru diberikan pada 1999 yang lalu, sewaktu Habibie berkuasa. (07/06/2000)

Sumber: Radio Nederland Seksi indonesia http://www.rnw.nl/ranesi/html/kawilarang.html

Copyright ©2001-2003 oleh Permesta Information Online™
Silahkan menyalin atau mengutip seluruh isi atau sebagiannya dengan mencantumkan sumber “dikutip dari Permesta Information Online”

🙂

source: http://www.facebook.com/topic.php?uid=37116264213&topic=12728


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: