Posted by: admin | December 26, 2014

Terbentuknya Sistem Pemerintahan di Wanua Sawangan

Musyawarah adalah salahsatu cara para Wadian /Tu’udan untuk menegakkan adat istiadat serta pembagian wilayah, maka setelah selesai musyawarah di Watu Pinawetengan, setiap anak suku Malesung dipimpin tonaas masing masing kembali dengan para walak (pemerintahan otonom, kumpulan beberapa desa/ wanua).

Anak suku Tountewu mendapatkan wilayah di Timur Laut Malesung (Sendangan Amian), dipimpin oleh Tonaas Walalangi dan Walian Rogi mereka berangkat menuju ke arah Timur Laut dan menetap di suatu tempat yang bernama Niaranan (Wulauan sekarang). Untuk sekian lama Niaranan menjadi pusat pemerintahan Tountewu yang meliputi hulu sampai hilir sungai Tondano (Ares dan Singkil), kaki pegunungan Dembean, pesisir pantai Timur Malesung (Maandon sampai Linekepan).

Dari Niaranan, sebagian penduduk dengan keluarganya masing-masing ditugaskan mencari sumber mata air, hingga tibalah mereka di daerah Kulo (We’welen sekarang) dan akhirnya menjadi pemukiman yang sekarang bernama Kembuan.

Sedangkan kelompok yang lain tiba di hulu sungai Saduan, yang dinamakan Dano Tua, yang akhirnya menjadi pemukiman yang bernama Kayu Pute.

Berawalnya terbentuk suatu komunitas di desa ini saat datangnya sekelompok orang yang berasal dari daerah Kembuan pada kurang lebih tahun 900 yang dipimpin oleh Tu’udan Dotu Runtuwarouw yang menempati daerah selatan desa Sawangan saat ini, suatu tempat yang bernama Tumpaan.

Setelah perjalanan waktu yang panjang, berawal dari mewabahnya penyakit sampar saat itu yang menelan banyak korban, pada kurang lebih tahun 1211 komunitas ini kemudian berpindah tempat menyusuri sungai Tondano, hingga tiba pada pertemuan 2 sungai (sungai Saduan dan sungai Tondano) komunitas ini kemudian menempati tempat tersebut yang sampai saat ini disebut Sawangan (yang mempunyai arti : pertemuan dua sungai, saling membantu, saling menguatkan satu dengan yang lainnya).

Sebagai Walian/Wadian saat itu, masih dipegang oleh keturunan dari dotu Runtuwarouw ditemani oleh beberapa Tona’as sebagai panglima perang antara lain Tonaas Rorimpandey dan Tonaas Ruruwawa yang kemudian anak cucu mereka juga sempat menjadi Walian/wadian di wanua ini.

Dalam kurun waktu yang tidak lama, komunitas ini berhasil membina hubungan yang baik dengan komunitas yang ada di sekitar Wanua tersebut, termasuk wanua Kayu Pute yang terletak di hulu sungai Saduan (nama lain : Dano Tu’a) dan kemudian terjadi kawin mawin antara kedua wanua ini dan pada akhirnya pada kurang lebih tahun 1300-an karena wanua Kayu Pute terlalu sering dilanda banjir dari sungai Saduan, wanua Kayu Pute (yang batas sebelah selatannya adalah daerah Walantakan –Tonsea Lama saat ini) kemudian bermigrasi ke arah selatan mencari tempat yang lebih tinggi sehingga terpisah dengan wanua Sawangan (walaupun masih terikat tali persaudaraan akibat kawin-mawin). Tempat tersebut yang kemudian dikenal dengan nama Tanggari.

Komunitas ini sangat akrab dengan komunitas di daerah sekitarnya, bahkan sering terjadi kawin mawin antar wanua bahkan ketika terjadi pembagian wilayah Tonsea dan wilayah Walantakan (Tonsealama) menjadi daerah tersendiri, Kepala Walak Tonsea yang berasal dari wilayah Walantakan Pongoh Saidi yang mempunyai 5 orang putri, salah satunya kawin dengan pemimpin dari wanua Sawangan saat itu yaitu Tangka Warouw.

Sedikit disinggung soal kepala Walak Tonsea Pongoh Saidi, anak sulungnya yang bernama Somporiwun kawin dengan pemimpin wanua Tanggari bernama Makariour Pelealu, anak kedua bernama Nensunan kawin dengan pemimpin wanua Sawangan Tangka Warouw, anak ketiga yang bernama Tolang kawin dengan pemimpin wanua Kumelembuai bernama Wagiu, anak keempat bernama Matiti kawin dengan pemimpin wanua Matelungtung (Tumaluntung saat ini) bernama Rotty, anak kelima bernama Dumpo yang kawin dengan pemimpin wanua Rorundu (Kaasar saat ini) yang bernama Karundeng.

Di akhir hayatnya, Pongoh Saidi, dimakamkan di tempat tinggal anak keduanya yaitu Nensunan di wanua Sawangan (Daftar nama dari Waruga Sawangan)

Menurut penuturan Graafland, Sawangan adalah ibu negeri dari penyembahan berhala di daerah ini.

Agama suku yang ada di wanua Sawangan ada berbagai cerita dan ritus, berbagai foso dan mereka mempunyai pemimpin yang disebut Walian.

Dikuburan terdapat berbagai figura yang diukir pada Waruga.

Terdapat banyak patung dan kebanyakan berbentuk binatang.

Disana terdapat makhluk yang mengerikan berkepala empat yang melambangkan tabiat yang acuh tak acuh, pemandang enteng, percaya pada mistik dan dosa. (Band. Graafland, 1987:48-495).

Roderick C. Wahr menulis bahwa Sarkofagus yang bernama Waruga ada pada tahun 900 Masehi, yang kemungkinan dibuat pada saat Tu’udan/ Walian Runtuwarouw pertama kali membentuk komunitas di wanua Tumpaan/Sawangan saat itu (Sejarah Waruga Sawangan dan legenda Wanua Sawangan).

Dari catatan sejarah bahwa sekitar tahun 1200 pedagang muslim dari Gujarat dan Persia mulai mengunjungi Indonesia dan membina hubungan perdagangan dengan wilayah di Indonesia dan India sambil menyebarkan agama Islam terutama disepanjang pantai Jawa dan Demak (Roderick C.Wahr, Sejarah Garis Waktu)

Kemudian pada tahun 1292 – 1293 Kaisar Cina memberangkatkan banyak ekspedisi barang rongsokan ke Malaka, Jawa dan Maluku. Ekspedisi ini dimaksudkan untuk berdagang dengan menggunakan kapal layar yang membawa porselen dan keramik ke Minahasa. Mereka membawa keramik-keramik tersebut untuk ditukarkan dengan beras.

Hubungan dagang ini kelihatannya sudah terjalin dengan penduduk wanua Sawangan saat itu, bahkan beberapa dari pedagang Cina yang meninggal, bahkan dimakamkan bersama barang dagangannya di Sarkofagus dengan nama Waruga di Wanua ini ( beberapa catatan tentang sejarah Waruga ).

Karena cara pemakaman ini mulai dikenal ke berbagai pelosok Minahasa, sehingga mulai tahun 1335, hampir seluruh pemimpin penting dari suku Minahasa, dimakamkan di Sarcophagi, nisan yang berdiri, yang dinamakan Waruga.

Dalam bukunya Harry Kawilarang yang berjudul “Bermulanya Minahasa Dikenal di Peta Dunia” menjelaskan bahwa pengenalan tanah Minahasa oleh bangsa-bangsa Barat diawali dengan kedatangan musafir dari Spanyol pada 1532.

Bermula sejak bandar Malaka didatangi kapal-kapal Portugis pimpinan D’Abulquergue pada 1511 membuka jalur laut menuju kepulauan Maluku. Jalur ini baru kemudian dimapankan pada 1521. Sebelumnya, kapal-kapal Spanyol pimpinan Ferdinand Magelhaens merintis pelayaran dalam usaha tujuan serupa yang dilakukan Portugis. Bedanya, jalur ini dilakukan dari ujung benua Amerika Selatan melintasi Samudera Pasifik dan mendarat di kepulauan Sangir Talaud di laut Sulawesi.

Sebelum menguasai kepulauan Filipina pada 1543, Spanyol menjadikan pulau Manado-Tua sebagai tempat persinggahan untuk memperoleh air tawar.

Dari pulau-pulau tersebut kapal-kapal Spanyol memasuki daratan Sulawesi Utara melalui sungai Tondano (Harry Kawilarang, BermulanyaMinahasa dikenal di Peta Dunia, 1990).

Hal tersebut berkaitan erat dengan cerita rakyat semasa kepemimpinan dotu Ruruwawa yang menguasai air tawar, beliau menyusuri sungai Tondano, tiba di Pantai Manado, bertemu dengan tujuh kapal layar. Walaupun sempat terjadi selisih paham namun akhirnya mereka diundang datang ke wanua Sawangan, karena satu-satunya tempat/wanua yang tepat berada di tepi kali Tondano hanyalah wanua Sawangan .

Bahkan pada masa kepemimpinan Ruruwawa, komunitas ini telah mengenal kertas, dibuktikan dengan ditemukannya sehelai kertas oleh pendeta P.H.Linemann pada tahun 1861 di Sawangan Tonsea (Jessy Wenas, Sejarah dan Kebudayaan Minahasa,2007, p.114-115), bahkan gambar upacara Mengelep (melep) diatas papan ukir berukuran 14 x 5.5cm yang usianya diperkirakan sebelum masuknya bangsa Barat di Minahasa.

Oleh bangsa Spanyol, dotu-dotu kemudian dihadiahkan Pahat atau Senoto yang terbuat dari besi baja yang kuat yang digunakan untuk pengukiran petutup waruga.

Keahlian berkomunikasi kelompok masyarakat wanua Sawangan saat itu sempat ditulis oleh Graafland dalam penelitiannya tentang Minahasa : “…. Yang perlu dicatat juga bahwa diantara orang Tonsea ada yang ahli dalam seni,…… mereka juga terdidik sebab itu bertemu dengan orang Eropa dengan tenang saja, namun sering beralih menjadi tidak sopan tanpa malu-malu, juga suka berbohong ……” (Baca: Sejarah Gereja GMIM Imanuel Sawangan, 2004).

Sebagian dari penjelasan diatas kiranya boleh menjadi bukti sejarah bahwa walaupun komunitas ini sudah ada sejak tahun 900-an, namun adanya wanua Sawangan yang tetap menempati wilayah ini, dimulai pada tahun 1211, karena pada tahun ini Tu’udan atau Walian keturunan Dotu Runtuwarouw masih memerintah, kemudian disusul oleh dotu-dotu lainnya berabad-abad kemudian.

DAFTAR TU’UDAN/WALIAN – HUKUM TUA WANUA SAWANGAN

Tahun 1211 sampai 1355 dipimpin oleh Dotu Runtuwarouw ….

Tahun 1355 sampai 1405 dipimpin oleh Dotu Tangkawarouw

Tahun 1525 sampai 1550 dipimpin oleh Dotu Ruruwawa

Tahun 1550 sampai 1560 dipimpin oleh Dotu Rorimpandey

Tahun 1560 sampai 1580 dipimpin oleh Dotu Kalalo

Tahun 1580 sampai 1595 dipimpin oleh Dotu Manampiring

Tahun 1595 sampai 1611 dipimpin oleh Dotu Wangke

Tahun 1611 sampai 1625 dipimpin oleh Dotu Mantiri

Tahun 1625 sampai 1633 dipimpin oleh Dotu Oley

Tahun 1633 sampai 1653 dipimpin oleh Dotu Runtukahu

Tahun 1653 sampai 1671 dipimpin oleh Dotu Maramis

Tahun 1671 sampai 1686 dipimpin oleh Dotu Kaseger

Tahun 1686 sampai 1708 dipimpin oleh Dotu Rorintudus

Tahun 1708 sampai 1716 dipimpin oleh Dotu Mamarimbang

Tahun 1716 sampai 1726 dipimpin oleh Dotu Mangdong

Tahun 1726 sampai 1747 dipimpin oleh Dotu Soloy Kaunang

Tahun 1747 sampai 1759 dipimpin oleh Dotu Karamoy

Tahun 1759 sampai 1778 dipimpin oleh Dotu Pangemanan

Tahun 1778 sampai 1782 dipimpin oleh Dotu Peterus

Tahun 1782 sampai 1796 dipimpin oleh Dotu Kalao Luntungan

Tahun 1796 sampai 1816 dipimpin oleh Kaidupan Mantiri

Tahun 1816 sampai 1841 dipimpin oleh Datuk Karamoy

Tahun 1841 sampai 1868 dipimpin oleh Elisa Wangke

Tahun 1868 sampai 1889 dipimpin oleh Christian Korompis

Tahun 1889 sampai 1899 dipimpin oleh Arkelaus Kaseger

Tahun 1899 sampai 1901 dipimpin oleh Wellem Bolung

Tahun 1901 sampai 1912 dipimpin oleh Yan Mantiri

Tahun 1912 sampai 1937 dipimpin oleh Theodorus Wangke (*)

Tahun 1937 sampai 1940 dipimpin oleh Yusop Montung

Tahun 1940 sampai 1942 dipimpin oleh Timotius Wangke

Tahun 1942 sampai 1943 dipimpin oleh Hanock Kaseger

Tahun 1943 sampai 1945 dipimpin oleh Yusop Montung

Tahun 1945 sampai 1947 dipimpin oleh Daniel Ticoalu

Tahun 1947 sampai 1962 dipimpin oleh Yacob Mantiri

Tahun 1962 sampai 1964 dipimpin oleh Paul Runtukahu

Tahun 1964 sampai 1970 dipimpin oleh Yan G. Kalalo

Tahun 1970 sampai 1974 dipimpin oleh Palenewen Mantiri

Tahun 1974 sampai 1977 dipimpin oleh Anthon Polie Oley

Tahun 1977 sampai 1981 dipimpin oleh Anthon Maramis

Tahun 1981 sampai 1986 dipimpin oleh Soleman Bolang

Tahun 1986 sampai 1986 dipimpin oleh W. Montung (PJS)

Tahun 1986 sampai 1986 dipimpin oleh Soleman Bolang

Tahun 1986 sampai 1988 dipimpin oleh Meity Tulong

Tahun 1988 sampai 1996 dipimpin oleh Elias B. Mantiri

Tahun 1996 sampai 2004 dipimpin oleh Marlien Humbas

Tahun 2004 sampai 2009 dipimpin oleh Marthen ML Oley, SE

Tahun 2009 sampai —— dipimpin oleh Djemmy R. Maramis

 

 

Sumber:

http://warugasawangansaduan.wordpress.com/2011/10/21/sejarah-desa/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: